-->
logo

KAPITALISME dan SPIRITUALITAS DI ERA GLOBAL: "Satu Mimbar Dua Niat Beda Tujuan."

Hot News

Hotline

KAPITALISME dan SPIRITUALITAS DI ERA GLOBAL: "Satu Mimbar Dua Niat Beda Tujuan."


Spiritualitas dan kapitalisme, bagi banyak orang, adalah dua dunia yang saling bertolak belakang. Yang satu berbicara tentang pengabdian,  ketundukan, ketulusan dan kritis terhadap materialisme, yang lain tentang laba, ekspansi, kemaruk harta dan Imperialisme Kultural. 

Namun parahnya, ternyata Kapitalis Global telah lama memanfaatkan MIMBAR Spiritualitas sebagai PASAR. Sekaligus menjadikan Produk dan Layanan Spiritual sebagai KOMODITAS. Sehingga terlihat seakan berjalan beriringan, bahkan saling menopang⁉️🤭😨 

Kapitalisme selalu haus akan pasar, dan Spiritualitas menawarkan pangsa yang tak pernah sepi: hati manusia yang mencari harapan. Dalam dunia di mana hampir semua hal bisa dikemas dan dijual, Iman dan Kebatinan bukan pengecualian. Kapitalisme Global, bahkan Merebranding menjadi komoditas yang sangat menjanjikan.💰😡 

Kapitalisme secara inheren mendorong komodifikasi berbagai Laku Spiritual Nusantara karena sistem pasar ini selalu haus akan peluang  baru yang menguntungkan. Spiritualitas sebagai bagian integral dari budaya, menjadi target komodifikasi yang empuk karena memiliki daya tarik massal yang kuat dan potensi keuntungan yang sangat besar. 

Maka ditawarkanlah berbagai Produk dan Layanan serta Buku Spiritual Kapitalis yang merupakan hasil KOMODIFIKASI berbagai Laku Spiritual Nusantara. 

Sebut saja misalnya: 

1. TIRAKAT : Inti Spiritualitas Nusantara, ditawarkan menggunakan istilah "Bio Hacking", "Mental Rewiring" dan "Inner Engineering," 
2. SAMADI, Mereka pasarkan sebagai metode kesehatan mental, Relaksasi,
3. BERTAPA, Mereka kemas dengan istilah "Retreat,"
4. TAPA BISU (PUASA) : Mereka Re-packaging dalam terminologi modern dengan istilah Silent Meditation,
5. PUASA NGROWOT: Mereka Kemas Ulang dengan istilah Plant-Based Diet ( Diet Berbasis Tumbuhan ),
6. PUASA MUTIH : Rebranding Ilmiahnya: Autophagy dan Intermittent Fasting,
7. NYEPI DI KUBURAN, GOA, atau TEMPAT SUNYI : Ilmuwan Barat melakukan re_branding menjadi teknik Sensory Deprivation,
8. NRIMO ING PANDUM (Pasrah Diri) mereka komersialkan dengan istilah The Power of Surrender (Kekuatan Berserah Diri). 

Karuan saja, komersialisasi spiritualitas ini menjadi topik yang hangat dan kompleks dengan berbagai perspektif. Tentu saja Fenomena dikaitkan dengan kekhawatiran tentang "KESERAKAHAN kapitalis" karena beberapa alasan: 

1. Profit sebagai motif utama,
2. Segmentasi pasar dan eksploitasi kerentanan,
3. Materialisme versus esensi spiritual,
4. Mengukur nilai yang tidak dapat diukur:  

Spiritualitas bersifat pribadi dan tidak berwujud. Usaha untuk mengukur, mengemas, dan menjualnya secara inheren bertentangan dengan sifatnya yang mendalam dan subjektif. 

Karena itulah, dibutuhkan kesadaran spiritual. Umat harus berhenti menukar ketulusan dengan janji instan serta menolak godaan monetisasi spiritualitas. Kesadaran itu harus lahir dari penolakan keras terhadap setiap paket produk atau layanan spiritual yang dijual, setiap janji keselamatan yang dikapitalisasi, dan setiap ritual yang dijadikan tontonan. 

Tidak cukup dengan teori atau kritik akademik. Ruang publik harus dijaga agar Iman tidak disandera oleh logika pasar. Pendidikan spiritual harus membangun kapasitas kritis, mengajari umat untuk meresapi makna ritual, bukan sekadar mengukur pahala atau hadiah. 

Tanpa ini, spiritualitas tetap menjadi lahan komoditas, dan spiritualis sejati tetap terjebak di balik layar keuntungan. Jika umat tidak menampar balik mekanisme itu, mereka sendiri yang menjadi korban Kapitalisme Spiritualitas. (az).

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.