-->
logo

SPIRITUAL SOLUTION : 7 Langkah Ajaib untuk Mengatasi Resesi Ekonomi

Hot News

Hotline

SPIRITUAL SOLUTION : 7 Langkah Ajaib untuk Mengatasi Resesi Ekonomi


SKJENIUS.COM, Jakarta.-- Sepanjang Tahun 2020 ini, rakyat Indonesia hidup di masa bersejarah yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kecemasan dan himpitan ekonomi mewarnai kehidupan sebagian besar masyarakat. Beban berat kehidupan yang luar biasa telah membebani kita dalam tempo tujuh bulan ini. Minggu lalu, saya mendapat telepon dari seorang kawan lama yang sudah 6 bulan tidak punya penghasilan. Pasalnya, tempatnya berjualan di sebuah Universitas di Bogor terpaksa tutup karena para mahasiswa masih kuliah secara online.

Saat ini kita dihadapkan pada kenyataan bahwa kita tidak tahu persis berapa lama lagi kita harus menjalani social distancing, menghindari kerumunan dan mengikuti Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Kita pun harus memikirkan tentang apa yang bisa atau tidak bisa kita sentuh dan kemana kita bisa atau tidak bisa pergi karena virus.

Hari ini kita dihadapkan pada kenyataan bahwa kita mungkin tidak dapat pergi ke mana pun kecuali online untuk jangka waktu tertentu. Karuan saja kesemuanya itu, perlu perjuangan tersendiri dalam beradaptasi dengan berbagai perubahan dalam kehidupan sehari-hari.

Perubahan itu, tentu saja sulit bagi kita semua.  Meskipun kita telah mendengar banyak tentang perubahan seperti jarak sosial, cuci tangan yang sering, pertemuan virtual, penutupan bisnis, penyesuaian restoran, penyusutan keuangan, dan lain-lainnya.

Sebagaimana sedang kita alami dan rasakan bersama, saat ini, kita hidup di masa yang ekstrem, di mana stres, ketakutan, korupsi dan kesulitan ekonomi menjadi problematika sehari-hari yang dihadapi masyarakat. Dalam suasana seperti itu, menjaga harapan, kepositifan dan kebaikan menjadi semakin menantang, bahkan sulit dipahami.  Jelas ada kebutuhan untuk stabilitas dan ketahanan batin yang lebih besar. 

Keimanan memberi kita kekuatan untuk membawa stabilitas dan ketenangan ke pikiran kita, bersama dengan kapasitas untuk melihat, merasakan dan mengalami potensi tertinggi kita - kekayaan kualitas dan kekuatan spiritual yang merupakan diri kita yang esensial.

Kekuatan Iman dimulai dengan kesadaran akan identitas kita sebagai makhluk spiritual.  Ini adalah hubungan yang memberdayakan yang memungkinkan kita untuk melampaui reaktivitas dan menanggapi dengan cinta dan kebijaksanaan untuk tantangan yang kita hadapi.  Jadi, persatuan spiritual antara jiwa manusia dengan Kehendak (Iradat) dan Kuasa (Qudrat) Yang Tertinggi adalah Sumber Kekuatan Keimanan kita.

A Spiritual Response to Challenges Around Us

Saudaraku! Dalam beberapa hari ini, saya memikirkan dan merenungkan hari saya, saya sedikit terpaku oleh emosi amarah dan kesedihan saya.  Sebagai seorang Spiritual Business Consultant, saya pandai mengidentifikasi emosi, terutama emosi saya sendiri.  Namun sebagai pribadi dan sebagai manusia, saya tidak selalu pandai mengetahui apa yang harus dilakukan dengan emosi ini.

Saat saya merefleksikan kemarahan, frustrasi, dan kesedihan saya, saya menyadari bahwa itu tidak terlalu ditujukan kepada orang-orang seperti situasi komunitas kita. Saya marah dan frustrasi dan sedih tentang beberapa perubahan yang pasti akan terjadi dan  marah dan frustrasi dan sedih karena saya tidak tahu persis seperti apa ini akan terlihat, dan saya marah, frustrasi dan sedih karena saya tidak tahu sampai kapan perubahan ini akan berlangsung. 

Saya memahami alasan, masalah kesehatan, dan manajemen risiko.  Tapi saya juga memahami kerugian yang akan dialami masyarakat.  Hilangnya relawan dan kehadiran mereka yang tak tergantikan, hilangnya kesempatan dan keterlibatan sosial, serta hilangnya hubungan dengan keluarga dan satu sama lain.

Saat ini, kita secara fisik, emosional, dan spiritual terpisah satu sama lain, sehingga dalam beberapa hal dipisahkan dari kebersamaan dan ukhuwah islamiyah. Semoga semua kejadian ini menyadarkan kita, betapa kita membutuhkan Allah yang penuh kasih dan pengampun, dan di sinilah tepatnya kita merindukan belaian Kasih Sayang, Petunjuk dan Pertolongan-Nya.

Karena itulah, sebagai seorang Spiritual Business Consultant,  Pikiran saya menjadi lebih terfokus pada perubahan apa yang harus kita lakukan sebagai respons spiritual terhadap kesulitan ekonomi di tengah ancaman resesi dan eskalasi pandemi yang belum diketahui kapan berakhirnya.

Menurut saya, respons spiritual terhadap krisis bukanlah pembenarannya, atau struktur kepercayaan yang dipaksakan dengan canggung di atasnya. Namun pemahaman spiritual yang benar tentang krisis, justru memungkinkan kita untuk melihat dunia sebagaimana adanya, dan ini pada gilirannya menginspirasi keterlibatan yang dalam dan sepenuh hati. 

Jadi, Respon Spiritual untuk Masa Kritis adalah menyatukan batin (Spiritual Converging) dari semua lapisan masyarakat dan setiap bagian dunia, untuk berbagi kebijaksanaan mereka, membimbing umat melalui pengalaman zikir dan pasrah diri yang kuat, dan menyediakan metode untuk melanjutkan praktik ini dalam kehidupan sehari-hari Anda.  Maka, marilah kita tingkatkan ketahanan dan sumber daya batin kita, dengan terhubung ke Yang Maha Kuasa.

Kita membutuhkan "Kedekatan Batiniah" untuk Melawan Prahara Corona di antara "Social Distancing" dan memohon Petunjuk-Nya untuk Mengatasi dampak Resesi Ekonomi di tengah Utang Negara yang Menggunung. Sehingga kita bisa membaca dan mengikuti peta spiritual yang telah dibentangkan-Nya yang mengarah ke dunia yang lebih adil.

Menurut Jaya Suprana, pada hakikatnya spiritual converging lebih selaras makna sila "Kemanusiaan yang adil dan beradab" maupun "Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia" serta juga "Persatuan Indonesia".

“Pada saat bersama menghadapi virus corona memang dibutuhkan semangat kebersamaan dan persatuan bukan dalam makna lahiriah namun justru batiniah. Spiritual converging mempersatukan energi batiniah etika, moral, adab, akhlak dan budi pekerti umat manusia demi melawan prahara,” pungkas Jaya Suprana.

Jadi, pandangan dunia spiritual adalah jalan melalui krisis, dan kebenarannya ditemukan dan diekspresikan melalui tindakan. Ini adalah pekerjaan spiritual yang sejati.  Inilah yang membawa kita ke Pusat Daya Abadi Yang Agung itu.  Itu berfungsi untuk membuat perubahan, dan melakukannya tanpa bertujuan untuk keuntungan pribadi.  Itulah yang disebut sebagai Amal Shaleh kita. Hal inilah yang akan menjadikan hidup kita indah.

"Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan  dalam  keadaan  beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang indah dan sesungguhnya Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (An-Nahl: 97).

Ini adalah peluang mendengarkan yang dalam yang memungkinkan kita untuk secara otentik merasakan kesedihan yang luar biasa dan menyakitkan ini - kesadaran yang kuat bahwa kita tidak berkembang sebagaimana mestinya, bahwa kita dapat melakukan yang lebih baik. 

Pandangan dunia yang benar-benar spiritual memungkinkan kita melakukan ini.  Pandangan dunia spiritual menghubungkan kita dengan kekuatan bawaan dan tak terbatas yang dapat hidup dengan kesedihan dan menjadi saksi rasa sakit.

Karena itulah, kita perlu mempunyai pandangan spiritual yang benar. Sehingga pada akhirnya kita menemukan Solusi Spiritual untuk Mengatasi Masalah Ekonomi dan Pandemi yang menjepit kehidupan bangsa Indonesia hari ini.

7 Ways You Can Respond in Times of Crisis

Ekonomi menjadi satu diantara ukuran berhasil tidaknya suatu negara memberikan kesejahteraan kepada rakyatnya. Karena itulah, kondisi ekonomi yang gagal meroket tentu tidak akan mampu mendorong produktivitas nasional dan lapangan kerja sulit tersedia, tingkat upah pekerja pun belum layak, daya beli yang menurun , permintaan dan penawaran akan barang dan jasa yang rendah.

Kondisi perekonomian rakyat Indonesia memang sedang amburadul. Bukan mustahil kondisi ini dapat saja terjadi dalam waktu yang panjang. Bahkan, sebagian masyarakat merasa perekonomian dalam keluarga semakin hari semakin memburuk.

 Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) mencatat hingga 31 Juli 2020, jumlah pekerja yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) maupun dirumahkan mencapai 3,5 juta lebih. Padahal, sebelum pandemi BPS mencatat total penganggur per Februari 2020 adalah 6,88 juta orang. Dengan tambahan ini jumlah penganggur Indonesia bisa menjadi sekitar 10.38 juta orang.

Berikut 7 Langkah Ajiab yang Dapat Anda Lakukan dalam Menanggapi Krisis yang Terjadi, yaitu:

1. Taubat.

Sebagaimana sudah kita bahas sebelumnya bahwa akar permasalahan yang menyebabkan resesi adalah ketidakseimbangan antara unsur material dan aspek spiritual dalam sistem perekonomian yang berkembang saat ini. Karena itu, mari kita Bertobat dan kembali ke Jalan Lurus yang sudah dibentangkan-Nya.

Suatu gerakan perbaikan yang terjebak hanya sibuk dengan sarana dan prasarana bendawi, tak akan bisa sampai pada tujuan yang dicita-citakan. Kalau toh sampai pada puncak kekuasaan, mereka tidak akan menjadi lebih baik dari generasi sebelumnya yang digantikan. Baju berubah, tapi sesungguhnya jiwa raga yang memakainya tetap sama.

2. Berdo'a Dengan Khusyu'.

"Do'a adalah senjata seorang Mukmin dan tiang (pilar) agama serta cahaya langit dan bumi." (HR Abu Ya'la).

Sejatinya, Allah tidak hanya menyampaikan petunjuk dan aturan-Nya lewat kitab suci namun juga membiarkan manusia merespon firman-Nya lewat do’a yang berisikan rasa syukur, keluh kesah, dan harapan.

Seperti yang dikatakan dalam Qur'an surat Al-Baqarah (2) ayat 186: "Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdo'a apabila dia berdo'a kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran."

Di sini Allah ingin mengatakan bahwa untuk merasakan kehadiran-Nya sebenarnya tidaklah perlu perantara. Cukup dengan berdo’a kita bisa merasakan betapa Dia berada amat dekat. Bahkan setiap perkataan yang kita ucapkan sebenarnya juga merupakan bentuk do’a. Sehingga kita manusia harus menjaga ucapan kita supaya perilaku dan lingkungan kita menjadi positif. Sebab kala mengucap sesuatu malaikat-malaikat di sekitar kita sebenarnya sedang mengamini perkataan tersebut.

3. Benamkan Diri Anda dalam Firman Allah.

“Dan Kami turunkan dari al Qur’an suatu yang menjadi obat (penawar) dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan al-Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (QS al-Isrâ’ : 82)

Alqur’an merupakan panduan utama yang dapat dijadikan sahabat sejati dalam mengarungi kehidupan agar sesuai dengan maksud dan tujuan Allah (maqashid as-syariah). Petunjuk Terbaik Bagi Manusia atas segala problema kehidupan yang dihadapinya, Hanya Ada Dalam Al-Qur’an. “Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus.” (QS. al-Isrâ`:9].

4. Jagalah Hatimu.

Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar cahaya kehidupan. "Sesungguhnya di dalam tubuh manusia ada segumpal daging. Apabila segumpal daging itu baik, maka semua anggota tubuh akan baik. Apabila segumpal daging itu buruk, maka semua anggota tubuh akan menjadi buruk pula. Segumpal daging itu adalah hati (qalbun)." (HR. Bukhari dan Muslim)

5. Peduli pada Orang Lain

Penting untuk menjaga hati Anda, tetapi Anda juga dapat mendukung orang lain yang mengalami trauma sekunder — beberapa yang mungkin mengalami krisis pribadi juga.

"....dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka Itulah orang orang yang beruntung." (QS. Al- Hasr: 9).

6. Tinggalkan Riba.

Resesi akan senantiasa berulang selama sistem ekonomi yang diterapkan adalah sistem kapitalis. Pasalnya ekonomi kapitalis merupakan ekonomi berbasis utang riba. Karena itu, segeralah tinggalkan riba.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Baqarah: 278)

7. Perbanyak Sedekah.

Sedekah sesungguhnya adalah membersihkan harta dan menyucikan jiwa kita. Seiring dengan itu, kita membantu meringankan beban masyarakat yang terhimpit kesulitan ekonomi.

Seiring dengan itu,  sedekah juga adalah menolak bala dan wabah serta menarik simpati Langit. Rasulullah Saw bersabda: “Orang-orang yang ada rasa Rahim akan dirahmati oleh Allah Yang Maha Rahman, yang memberikan berkat dan Mahatinggi. Sayangilah orang-orang yang di bumi supaya kamu disayangi pula oleh yang di langit.” (HR. Imam Ahmad).

Insya Allah dengan melaksanakan ketujuh langkah strategis di atas kita akan terhindar dari dampak negatif yang ditimbulkan oleh pandemi dan ancaman resesi. Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. (QS. Al-Baqarah : 38).

Akhirul Kalam, Sebagai seorang Spiritual Business Consultant yang berpengalaman selama 25 tahun, saya berkeyakinan  bahwa kolaborasi yang baik antara pemerintah dan masyarakat bisa menjadi modal untuk keluar dari resesi ekonomi dan krisis kesehatan akibat Covid-19. Untuk itulah kita  membutuhkan "Spiritual Converging" untuk Melawan Prahara Corona di antara "Social Distancing" dan mohon Petunjuk-Nya untuk  Mengatasi dampak Resesi Ekonomi di tengah Utang Negara yang Menggunung. Aamiin Yaa Rabbal 'Aalamin! (az).




This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.