-->
logo

Membaca Tanda-tanda Zaman Sebagai Panggilan Keimanan

Hot News

Hotline

Membaca Tanda-tanda Zaman Sebagai Panggilan Keimanan

SKJENIUS.COM, Jakarta.— Tanda-tanda keruntuhan peradaban sudah kelihatan, apalagi ada prahara corona yang mempercepat prosesnya. Zaman yang bergerak ini telah memberi sinyal akan bobroknya peradaban masa kini. 

Para penguasa semakin tidak berpihak kepada kaum Dhu’afa. Undang-undang dan peraturan dibuat untuk melayani kepentingan Kapitalis. Karena itulah posisi buruh sebetulnya dalam perusahaan konvensional kapitalis itu tak lebih hanyalah sebagai alat produksi. Mereka tak ubahnya mesin profit untuk kepentingan investornya. 


Sementara itu, pembangunan nasional pun, nampaknya belum berpihak kepada rakyat kecil dan fakir miskin serta orang-orang terlantar. Sehingga persoalan kemiskinan, pengangguran dan ketimpangan ekonomi masih belum teratasi. Sementara itu, kekayaan sumber daya alam Indonesia selama ini hanya dikuasi oleh segelintir orang. Akibatnya, banyaklah rakyat kecil dan masyarakat adat (bumi putera) yang termarjinalkan dalam pembangunan.


Ironisnya, di sisi lain, Jerat Hedonisme dan Materialistis serta virus Indivudualistis di Kalangan Masyarakat Menengah ke atas pun merajalela. Gaya hidup hedonis yang menunjukkan kemewahan, kesenangan, menghamburkan uang, berfoya-foya pun semakin marak. Padahal, Hedonisme, materialistis dan unvidualistis ini merupakan virus yang mematikan yang mampu membuat manusia kehilangan akal sehatnya, tercabut dari kearifan budaya bangsa warisan nenek moyang, bahkan mampu mengubah jati diri dan keimananya.


Bahasa religiusnya manusia mulai meninggalkan norma-norma agama dan bergelimang dengan dosa, bahasa budaya spiritual Nusantara menyebutkan “manungso wis kelangan kiblat lan lali sangkan paraning dumadi”. Ini mungkin akibat logika manusia modern yang telah terbawa pemikiran Barat Sekuler yang terlalu mengansdalkan hal-hal pragmatis untuk mengubah bumi ini.


Membaca Tanda-tanda Zaman 


Perubahan akan terjadi dan semua yang berproses ribuan tahun, serta abad akan hilang, berganti dengan babak baru. Abad sekarang adalah puncak peradaban manusia masa kini. Semua kepintaran manusia telah kelihatan hasilnya, ekonomi tumbuh secara signifikan, teknologi berkembang dengan pesat. Komunikasi antar benua bisa berlangsung cepat, perjalanan mengitari bumi tidak perlu dilakukan berhari-hari.


Sayangnya, kesemuanya itu dalam sekejap dilumpuh oleh wabah covid-19. Ia menjadi semacam pintu lain yang mengubah segala apa pun yang ada di bumi. Dengan kata lain, bumi kita sekarang ini berbeda dari sebelumnya. Beberapa dampak yang paling krusial adalah macetnya sendi-sendi perekonomian dunia. Setiap negara di dunia berjibaku mengatasi kemerosotan perekonomian. Tak terkecuali di Indonesia. Mau tidak mau, kita telah digiring memasuki Tatanan Dunia Baru.


Sebagai orang Beriman dan Beraqal, bagaimana seharusnya kita membaca tanda-tanda zaman dan menafsirkan dunia ini bahkan mengubahnya?  Apakah kita mesti menjadi semacam mistikus yang senantiasa menerima keterlemparan kita di dalam dunia sebagai sesuatu yang terberi dan menjalaninya di dalam kepasrahan bahwa apapun yang terjadi di dalam dunia biarlah terjadi? Jawabannya tidak!


Guru Mursyid kita, Allahyarham Syaikh Inyiak Cubadak sangat mengecam ketidakmapuan para murid dalam membaca tanda zaman. Tampaknya kesediaan dan kecakapan membaca tanda zaman menjadi tanggung jawab pengikut Tasawuf Transformatif yang beliau sebarkan ke berbagai kota di Nusantara. Syaikh Inyiak Cubadak menekankan pentingnya melakukan refleksi, permenungan dan tafakkur atas berbagai fenomena menarik di seputar kita. Kita perlu merefleksi fenomena ini dan berani belajar dari pengalaman agar sebagai Agent of Change semakin mampu membangun Tatanan Dunia Baru sesuai Petunjuk Allah dan Rasul-Nya.


Fenomena politik uang, animo keterlibatan kaum muda kehidupan politik melalui berbagai macam media dan ruang ekspresi, kampanye hitam, polemik visi misi terutama terkait dengan kebebasan beragama, keterlibaan kaum religius dalam politik negara secara langsung, demikian juga surat pribadi Buya Maarif ke Jokowi karena Batin beliau Menjerit Melihat Para Dokter yang Tumbang di tengah Pandemi, serta hadirnya intelektual tukang yang menjadi alat propaganda kelompok tertentu dan keterpecahan umat Islam dalam dua kubu besar, peranan media dalam konteks diseminasi demokrasi yang masih labil, kiranya perlu kita refleksi, telaah dan tafakkuri agar kita dapat menemukan apa yang menjadi kehendak Allah dalam situasi ini.


Berbicara tentang tanda, semua kita pasti tahu tentang tanda. Dalam kacamata saya, tanda itu dapat dipahami dalam contoh berikut ini: dimana ada asap, di situ pasti ada api, di mana ada mendung, di situ pasti ada air hujan, dimana ada basah di situ pasti ada air, di mana ada gempa di situ pasti ada patahan dan tanah longsor, dan seterusnya. 

Tanda menandakan atau memberi sinyal tentang sesuatu. Namun sayangnya, tanda-tanda itu hanya bisa dipahami oleh Ulil Albab


Sinergitas, Zikir, Pikir dan Ukir 


Menurut Syaikh Inyiak Cubadak, para sejarawan ilmu dan agama, filsuf, teolog, ilmuwan di masa lampau telah mampu menyinergikan berbagai aspek  hubungan antara Tasawuf TransformatifSpiritualitas dan Ilmu Pengetahuan. Sehingga mereka menjadi Ulil Albab, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an:

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi Ulil Albab (orang-orang yang berakalcerdas)." (QS. 'Ali 'Imran : 190).


Allah menjelaskan kepada kita bahwa sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang Ulil Albab. Ulil Albab adalah orang-orang berakal yang memiliki tiga ciri yang paling  utama yaitu zikir dan pikir dan ukir (karya).


“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah (zikir) sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka” (QS. 'Ali 'Imran :191).


Oleh karena itu, jika kita ingin Merefleksi Fenomena Zaman, maka terlebih dahulu kita harus mampu membangun Sinergitas, Zikir, Pikir dan Ukir dalam mengembangkan Daya Pikir. Sehingga Dimensi Fikir danDzikir dapat Berjalan dalam Koridor Keharmonisan. Karena itulah Alquran menempatkan kemam puan zikir dan kemampuan pikir sebagai dua dimensi yang tidak dapat dipisahkan.


Sikap dan perilaku seperti inilah yang pernah ditunjukkan oleh Rasulullah SAW sebelum beliau menerima wahyu yang pertama di Gua Hira pada 17 Ramadhan. Rasulullah memilih untuk menying kir dari hiruk piruk duniawi dan memilih jalan kontemplatif untuk merenung tentang berba gai fenomena alam dan kebobrokan sosial masyarakat jahiliyah pada saat itu.


Dalam perenungan seperti itu, yang sering kali muncul adalah pertanyaan filosofis: apa, mengapa, dan bagaimana. Nabi Muhammad SAW prihatin dan sedih bahwa masyarakat Arab jahiliyah saat itu sedang berada dalam kebobrokan keyakinan dan disparitas sosial yang tajam dalam memperlakukan sesama manusia. Pertanyaanpertanyaan itulah yang melatarbelakangi Muham mad SAW sering kali menyendiri, berkhalwat, dan melakukan kontemplasi (merenung diri) untuk mencari jawaban hakiki atas kondisi masyarakat Arab yang terjadi pada saat itu. Dalam perenungan yang mendalam tersebut terkandung dua aktivitas utama, yakni zikir dan pikir.


Keseimbangan yang tepat antara olah rasa dan olah pikir tersebut pada akhirnya akan me ngantarkan manusia dalam mencapai kebenaran mutlak tentang ke-Maha-Kuasa-an Allah SWT dan kebenaran relatif tentang ilmu pengetahuan, tentang fenomena alam, termasuk sosial, yang tengah dihadapi saat ini. 


“Allah menganugerahkan Al-Hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya Ulil Albab (orang-orang yang berakal cerdas) yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” (QS. Al-Baqarah : 269).🙏 (Aby Zamri).




This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.