-->
logo

Rezeki Berbanding Lurus Dengan Kualitas Ibadah

Hot News

Hotline

Rezeki Berbanding Lurus Dengan Kualitas Ibadah


Jakarta, SKJENIUS.COM.- Seiring dengan Prahara Covid-19, Badai PHK pun Melanda. Kementerian Tenaga Kerja (Kemenaker) mengungkapkan, hingga 27 Mei 2020 tercatat sebanyak 3.066.567 pekerja terdampak Covid-19 sehingga harus di-PHK maupun dirumahkan. Namun angka lebih fantastis disodorkan Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin). Mereka menyebut, orang yang menjadi korban PHK bisa mencapai 15 juta jiwa.

Sementara itu, Dampak pandemi virus corona Covid-19 terhadap bisnis juga dirasakan banyak pengusaha. Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) merupakan salah satu sektor yang paling terdampak pandemi Covid-19. Deputi Restrukturisasi Usaha Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Kemkop UKM) Eddy Satriya menyampaikan, sebanyak 2.322 koperasi dan 185.184 pelaku usaha UMKM terdampak pandemik Covid-19. Padahal sektor tersebut merupakan yang paling banyak menyerap tenaga kerja sekitar 97 persen dan kontribusinya terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional sekitar 60 persen.

Karuan saja Kondisi Ekonomi yang merosot, badai PHK, sulitnya lapangan kerja dan semakin lemahnya daya beli ini mencemaskan masyarakat. Pasalnya, banyak orang menyangka bahwa Peningkatan Kualitas Hidupnya berbanding lurus dengan usaha atau pekerjaannya. Maka, mereka pun khawatir, bagaimana mereka akan meningkatkan Kualitas Hidup, sedangkan untuk memenuhi kebutuhan pokok saja sulit?

Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan dua paket stimulus ekonomi untuk membantu warga kelas menengah bawah yang dinilai paling terdampak kelesuan ekonomi akibat pandemi Covid-19. Meski demikian, beberapa stimulus yang diberikan dinilai 'masih terlalu kecil dan jangkauannya kurang luas'.

Sehubungan kondisi perekonomian yang sulit, seabagaimana disebutkan di atas, saya ingin berbagi ilmu dan pengalaman dengan para pembaca, "Bagaimana Cara Menjaga Bisnis Tetap Bertahan dan Berkembang di Tengah Pandemi Virus Corona." Semoga resep sederhana ini bermanfaat bagi anda semua dan tetap dapat Meningkatkan Kualitas Hidup di tengah krisis ekonomi ini.

Berdasarkan pengalaman saya sebagai Spiritual Business Consultant selama 25 tahun, agar terhindar dari Kemelut Ekonomi dan Keuangan kita harus paham Konsep Rezeki dalam Islam.  Sesungguhnya semua makhluk rizkinya telah dijamin oleh Allah. Ada banyak dalil yang menunjukkan hal ini. Diantaranya, firman Allah,

"Hai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah Pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezki kepada kamu dari langit dan bumi?” (QS. Fathir: 3)

Seiring dengan itu kita pun harus menyadari bahwa rezeki manusia sangat dipengaruhi oleh dua unsur yaitu aspek internal dan aspek eksternal.

Dari segi internal, satu diantaranya Keimanan kita atas segala ketentuan (taqdir) Allah, hal ini adalah unsur Ilahiyah yang tidak dapat dilogikakan oleh akal semata. Akan tetapi, keajaiban Iman kepada Taqdir  mampu memberikan pengaruh yang sangat besar dalam mewujudkan keberkahan daan keberlimpahan rezeki. Sebagaimana disebutkan Allah dalam Firman-Nya :  “Tidak ada satupun yang bergerak di muka bumi ini kecuali Allah yang menanggung rezekinya.” (QS. Hud: 6).

Dalam hadis dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bercerita tentang proses penciptaan manusia. “Kemudian diutus malaikat ke janin untuk meniupkan ruh dan diperintahkan untuk mencatat 4 takdir, takdir rezekinya, ajalnya, amalnya dan kecelakaan atau kebahagiaannya.” (HR. Muslim 6893).

Turunan dari prinsip ini bahwa siapapun anggota keluarga yang nafkahnya menjadi tanggung jawab kita, hakekatnya yang memberi rizki mereka adalah Allah dan bukan kepala keluarga. Kepala keluarga yang bekerja hanya perantara untuk rizki yang Allah berikan bagi anak-anaknya. Demikian juga karyawan yang bekerja di perusahaan kita, pada dasarnya yang memberi rizki mereka adalah Allah dan bukan pemilik atau pimpinan perusahaan. Jadi, perusahaan hanyalah alat penyalur rezeki bagi para pekerja atau buruhnya.

Karena REZEKI itu sudah TERSEDIA, maka kita harus SADAR sepenuhnya bahwa tak ada hubungannya antara Rezeki dengan Usaha Manusia. Namun rezeki manusia itu berbanding lurus dengan IMAN dan TAQWA kita. Sebagaimana dijelaskan Allah dalam Al-Qur’an : 

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri tersebut beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS: Al-A’raf [7]: 96).

Imam Nawawi menyebut bahwa yang dimaksud dengan berkah adalah tumbuh, berkembang, atau bertambah; dan kebaikan yang berkesinambungan.

Dengan demikian, kunci utama membangun kehidupan masyarakat Indonesia yang maju, sejahtera, bahagia dan penuh keberkahan adalah dengan senantiasa ingat kepada Allah, serta terus meningkatkan iman dan taqwa, sehingga cara berpikir kita, perilaku kita, benar-benar membawa kebaikan.

Bagaimana taqwa itu, Guru Mursyid kita, Allahyarham H. Permana Sasrarogawa menjelaskan, “Taqwa adalah tunduk, patuh, menaati Allah dan tidak bermaksiat kepada-Nya. Senantiasa mengingat Allah serta bersyukur kepada-Nya tanpa ada pengingkaran (kufr) di dalamnya.”

Karena itu, Syaikh Inyiak Cubadak Mengingatkan Iman dan Taqwa itu harus diwujudkan dalam bentuk Ibadah dan Amal Shaleh. Jadi Kualitas Hidup manusia itu berbanding lurus dengan Kualitas Ibadahnya kepada Allah.Namun demikian manusia berkewajiban berusaha (ikhtiar) untuk :

1. Mendapatkan Rezeki;
2. Mengumpulkan Reseki;
3. Menunggu Datangnya Rezeki;
4. Mengelola Rezeki;
5. Mengembangkan Rezeki;
6. Melipat-gandakan Rezeki;
7. Mendayagunakan Rezeki di Jalan Allah

Ibnul Qayyim berkata, “Fokuskanlah pikiranmu untuk memikirkan apapun yang diperintahkan Allah kepadamu. Jangan menyibukkannya dengan rezeki yang sudah dijamin untukmu. Karena rezeki dan ajal adalah dua hal yang sudah dijamin, selama masih ada sisa ajal, rezeki pasti datang. Jika Allah -dengan hikmahNya- berkehendak menutup salah satu jalan rezekimu, Dia pasti –dengan rahmatNya- membukan jalan lain yang lebih bermanfaat bagimu.”

Jadi, Anda tidak perlu khawatir dengan Rezeki. Pasalnya, rezeki selain sudah diatur, juga sudah dibagi dengan adil. Allah Ta’ala berfirman,

“Dan jikalau Allah melapangkan rezki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.” (QS. Asy Syuraa: 27).

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, “Allah memberi rizki pada mereka sesuai dengan pilihan-Nya dan Allah selalu melihat manakah yang maslahat untuk mereka. Allah tentu yang lebih mengetahui manakah yang terbaik untuk mereka. Allah-lah yang memberikan kekayaan bagi mereka yang Dia nilai pantas menerimanya. Dan Allah-lah yang memberikan kefakiran bagi mereka yang Dia nilai pantas menerimanya.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 6: 553).

Rezeki itu berbanding lurus dengan Iman dan Taqwa. Iman dan Taqwa berbanding luruh dengan ridha Allah, sedangkan Ridha Allah ada pada ibadah dan amal shaleh, ibadah dan amal shaleh membangun kedekatan kepada Allah. Insya Allah orang yang beribadah mendapatkan ridha Allah, orang yang mendapatkan ridha Allah. Allah sendiri yang mendekatkan rezeki itu kepada hamba yang Diridhai-Nya. (az).

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.