Rabbighfirli Waliwalidayya Warhamhuma Kamaa Rabbayani Saghira.
Jika ditanya siapa orang yang paling menginspirasiku didalam hidup ini maka aku akan teriak dengan lantang menyebut nama ibu. Ya, ibu adalah sosok yang menjadi pahlawan dan inspirasi bagiku sejak kecil. Bagaimana tidak?
Sejak kecil aku memang kurang dekat dengan sosok ayah karena beliau kerja jauh dan sangat sibuk. Ibulah sosok setia yang selalu mendampingi dan menemani hari-hariku. Aku memang terlahir dari keluarga yang sederhana.
Aku mengagumi ibuku, Beliau adalah seorang hero di rumah. Sosok yang sangat berani. Tidak kenal takut. Tidak kenal lelah. Tidak kenal pamrih. Membesarkan anaknya, dengan kasih dan sayang. Rela tidak makan, asalkan anaknya bisa makan.
Seorang ibu yang hidup di lingkungan budaya dan adat istiadat Minangkabau mempunyai tanggung jawab untuk merawat dan mendidik anak-anaknya. Ibu juga, diberi memiliki tradisi untuk berbakti dan mengabdi pada suami. Ibu juga diberikan kewajiban untuk menjaga keharmonisan keluarga.
Ibuku adalah pahlawan yang sebenarnya. Pasalnya, ibu telah mengorbankan banyak hal untuk anak-anaknya. Ibu rela mengandung selama 9 bulan, melahirkan dengan rasa sakit, dan merawat anaknya hingga dewasa.
Ibuku adalah sosok pejuang sejati yang memberikan pengorbanan tanpa batas, cinta yang tulus, serta kerja keras demi kebahagiaan dan masa depan anak-anaknya.
Ibuku rela berjalan kaki dalam gelap diselimuti kabun dingin menusuk tulang. Dalam sunyi, selesai menunaikan shalat subuh Beliau bergerak menuju Pasar yang jaraknya puluhan kilometer agar bisa menjual rebung, demi mengais rezeki untuk kami, anak-anaknya.
Semua itu Beliau lakukan karena ayahku sedang berjuang menata usaha di perantauan. Ibuku tak pernah mengeluh, maupun menyesali keadaan, semuanya Beliau lakukan dengan sabar dan ikhlas
INILAH BENTUK NYATA DARI PERJUANGAN IBUKU :
1. Pengorbanan waktu dan tenaga: Mengandung selama sembilan bulan, melahirkan dengan penuh pertaruhan nyawa, hingga merawat serta mendidik anak-anaknya tanpa kenal lelah.
2. Tulang punggung dan pelindung: Ibu, tidak hanya sebagai pelindung yang memberikan rasa aman, kasih sayang, dan kehangatan, tetapi juga sebagai tulang punggung yang bekerja keras, berdagang maupun mendampingi Ayahku—demi mencukupi kebutuhan hidup dan memastikan anak-anaknya tetap bisa bersekolah.
3. Pendidik yang Utama : Ibu mengajarkan keterampilan hidup paling awal, seperti berbicara, menyusun kata, berjalan, dan tata krama. Ibuku juga Membentukan Karakter anak-anaknya. Nilai moral, etika, akidah, dan agama ditanamkan oleh ibu sejak kami masih sangat kecil.
4. Cinta tanpa pamrih: Menjadi sumber kekuatan, pendengar yang sabar, serta pendoa utama yang tidak pernah menyerah pada keadaan.
Semoga Allah mengampuni segala kekhilafan beliau, meluaskan kuburnya, dan menempatkan Ibu di tempat yang paling mulia dan agung di sisi-Nya. Aamin Yaa Rabbal 'Aalamiin🙏



