Jakarta, SKJENIUS.COM,- Belakangan ini kita menyaksikan fenomena "Demam" Tan Malaka. Karuan saja, nama Tan Malaka kembali menggema di kalangan anak muda. Buku-bukunya, seperti Dari Penjara ke Penjara hingga Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika), tak lagi hanya menjadi arsip intelektual di rak perpustakaan. Melainkan dibedah, didiskusikan, dan dipelajari ulang oleh generasi yang haus akan perubahan.
Fenomena ini menandai bangkitnya minat baru terhadap pemikiran kritis yang lahir dari seorang tokoh revolusioner, sekaligus pahlawan nasional yang pernah terpinggirkan dari narasi resmi sejarah Indonesia.
Tentu saja Kegandrungan anak muda terhadap Tan Malaka patut disambut positif karena mencerminkan minat terhadap sejarah bangsa, kesadaran intelektual, dan semangat anti-kolonial.
Namun, sikap ini perlu diwaspadai agar tidak terjebak pada pengultusan buta yang menelan mentah-mentah seluruh pemikiran Marxisme-Leninismenya yang bertentangan dengan ajaran Islam, Pancasila dan Budaya Spiritual Nusantara.
Berikut ini Poin-Poin Kritik dan Bahaya Pemikiran Tan Malaka serta Kekeliruannya Dalam Menolak Logika Mistika:
1. BAHAYA DOGMATISME IDEOLOGI: Pemikiran politiknya sangat lekat dengan Marxisme dan Komunisme. Tanpa literasi sejarah yang memadai, anak muda rentan terjebak pada pemahaman radikal yang tidak sesuai dengan nilai kebangsaan.
2. PENOLAKAN TERHADAP AGAMA: Dalam kerangka berpikir materialistiknya, agama kerap diposisikan secara berbeda dengan nilai absolut Ilahiyah. Ini berpotensi memicu pergeseran nilai moral jika tidak dipahami dalam konteks sejarah zamannya.
3. GENERALISASI AGAMA/SPIRITUALITAS: Tan Malaka keliru karena menyamakan kepercayaan pada hal gaib secara umum sebagai penyebab langsung kemunduran, serta terkadang menyeret aspek agama sebagai akar masyarakat mempercayai logika mistika.
4. ABAIKAN REALITA KULTURAL: Dalam upayanya mendorong rasionalitas (sains), ia dinilai kurang melihat bahwa logika mistika pada masyarakat adat seringkali merupakan bentuk pertahanan budaya atau cara adaptasi manusia terhadap situasi tak terkendali.
5. KESALAHAN APRIORI: Kritik menyebutkan bahwa upaya memutus rantai mistika secara drastis seringkali berakar pada kesalahan apriori, di mana logika mistika dianggap semata-mata kesalahan berpikir, padahal berakar pada kondisi material-sosial yang riil.
Tan Malaka menolak logika mistika yang mengaitkan fenomena sosial-ekonomi dengan roh atau klenik, dan mendorong penggunaan sains/logika untuk kemajuan bangsa.
Hal tersebut di atas menunjukkan kekeliruan, dangkal, dan sempitnya nya cara berpikir Tan Malaka.
Pasalnya, jika dikaji lebih mendalam, maka akan kita sadari bahwa kemajuan suatu bangsa tidak bisa hanya "menuhankan" Sains dan Logika semata.
Sains dan logika memang berperan sebagai motor penggerak kemajuan material dan teknologi, namun karakter bangsa, moral, dan arah tujuan kemajuan tersebut tidak akan terbentuk tanpanya adanya pilar lain yang seimbang.
Karena itulah untuk membangkitkan dan mengembangkan peradaban Nusantara diperlukan Keseimbangan Batin.
Jika kita mengembangkan hanya sisi kognitif (akal) sering kali memicu kekosongan spiritual atau makna hidup. Nilai spiritualitas dan filosofis memberikan fondasi mental yang kuat saat masyarakat menghadapi krisis atau perubahan zaman yang cepat.
Maka, sikap kita terhadap pemikiran Tan Malaka sebaiknya adalah mengambil esensi nasionalismenya yang progresif, menjadikannya inspirasi kemandirian, serta meneladani keberanian berpikir kritisnya. (az)



