Disadari atau tidak cengkeraman Kapitalis Global semakin kuat merasuk ke berbagai lini kehidupan rakyat Indonesia. Bukan hanya mencengkram arena ekonomi dan politik, mereka pun melakukan penetrasi budaya yang terstruktur, sistematis dan masif.
Makanya, Hegemoni Kapitalis Eropa dan Amerika Serikat semakin kuat mempengaruhi gaya hidup dan budaya masyarakat kita, terutama melalui media massa.
Karuan saja, tidak sedikit rakyat Indonesia yang terpengaruh. Bahkan, menjadikan dua negara maju tersebut sebagai Kiblat budaya modern. Sehingga tanpa disadari menggusur budaya natural milik Indonesia.
Hal itu, dilakukan Kapitalis Global melalui pengenalan nilai budaya Barat secara massif. Sehingga secara langsung maupun tidak, hal ini mengorbankan nilai tradisional dan menghilangkan keaslian budaya lokal.
Parahnya lagi, Kapitalis Global pun melakukan RE-PACKAGING dan RE-BRANDING berbagai Laku Spiritual Nusantara dengan istilah dan nama Barat agar bisa menjadi Komoditas Komersial berupa Produk dan Layanan Spiritual Kapitalis.
Kapitalisme secara inheren mendorong komodifikasi budaya karena sistem ini selalu haus akan peluang pasar baru yang menguntungkan. Agama dan Spiritualitas sebagai bagian integral dari budaya, menjadi target komodifikasi yang empuk karena memiliki daya tarik massal yang kuat dan potensi keuntungan yang sangat besar.
Komodifikasi spiritualitas Nusantara dilakukan dengan mengubah unsur-unsur spiritualitas lokal (seperti tradisi, simbol, ritual, atau kepercayaan) menjadi barang atau jasa yang bisa diperdagangkan di pasar untuk mencari keuntungan, menjadikannya produk bernilai tukar, bukan hanya nilai guna spiritual, yang terlihat dari wisata spiritual, produk label halal, hingga konten ustadz selebriti yang dikemas secara komersial, menciptakan ambivalensi antara nilai sakral dan profit.
Spiritualitas, yang dulunya mungkin hanya bersemayam di ranah sakral yang murni, kini tak terhindarkan lagi bersentuhan, bahkan berbaur, dengan ranah ekonomi yang profan. Ketegangan antara nilai-nilai tradisional agama yang dianggap suci dengan logika pasar modern yang cenderung pragmatis dan berorientasi keuntungan menjadi semakin nyata.
Maka itu, waspadalah terhadap bentuk nyata "Imperialisme Kultural", Kapitalis Menggerogoti inti agama dan spiritualitas yang selama ini sangat Kritis terhadap Materialisme.
Imperialisme budaya (Imperialisme Kultural) adalah suatu bentuk "penjahan" terselubung dalam bentuk dominasi nilai, keyakinan, dan praktik budaya Kapitalisme Barat terhadap budaya Indonesia, yang mengakibatkan terkikisnya identitas lokal melalui pengaruh media, ekonomi, teknologi, dan ideologi, menciptakan keseragaman budaya global yang bias.
Dengan demikian, berbicara tentang kapitalisme hari ini, kita tidak lagi membicarakan tentang sebuah ideologi ekonomi yang berasal dari negara barat. Kapitalisme telah bermetamorfosis kedalam segala bentuk lini kehidupan dan begitu dekat dengan keseharian kita.
Karena itu Waspadalah terhadap Imperialisme Budaya Kapitalis ini. Imperialisme kebudayaan ini adalah imperialisme yang sangat berbahaya, karena masuknya gampang, tidak terasa oleh yang akan dijajah dan jika berhasil sukar sekali bangsa yang dijajah dapat membebaskan diri kembali, bahkan mungkin tidak sanggup lagi membebaskan diri.
Pasalnya, Kapitalis Global berusaha dengan aktif agar bisa menguasai jiwa (de geest, the mind) dari suatu negara lain. Dalam kebudayaan terletak jiwa yang telah mendarah daging dari suatu bangsa. Jika kebudayaannya dapat diubah, berubahlah jiwa dari bangsa itu.
Si Kapitalis hendak melenyapkan kebudayaan dari suatu bangsa dan menggantikannya dengan kebudayaan si imperialis, hingga jiwa bangsa jajahan itu menjadi sama atau menjadi satu dengan jiwa si penjajah.
Menguasai jiwa suatu bangsa berarti mengusai segala-galanya dari bangsa itu. Na'udzubillahi min dzalik‼️👊



