-->
logo

‎BABALIAK KA PANGKA: Mangaji Raso jo Pareso, Manampuah Jalan Luruih, Manaruko Maso Katibo 👍❤️🇮🇩🙏‎

Hot News

Hotline

‎BABALIAK KA PANGKA: Mangaji Raso jo Pareso, Manampuah Jalan Luruih, Manaruko Maso Katibo 👍❤️🇮🇩🙏‎

‎DNA Orang Minangkabau adalah “RASO jo PARESO. Karena itulah dalam menyikapi suatu kejadian ataupun menilai suatu berita, orang Minang tidak akan bersikap REAKSIONER.

‎Namun, setiap peristiwa, melihat suatu kejadian, saat mendengar kata-kata selalu “diinok dimanuangkan, diindang ditampi tareh, ditimbang Raso jo Pareso, dikaji Baiak jo Buruak. Minta Pitunjuak pada Allah.”

‎Raso dibaok naiak

‎Pareso dibaok turun

‎Tarimolah raso dari lua

‎Pareso bana raso kadalam

‎Antah iyo antah indak.

‎Pitunjuak Allah kito minta

‎Pada hakekatnya  intisari dari Adat Minangkabau adalah “Raso jo Pareso” Rasa takut kepada Allah, Rasa malu dan sopan terhadap sesama manusia, segan menyegani, tenggang rasa dan saling menghargai diantara sesama anggota masyarakat. Dari rasa malu timbul rasa sopan.

‎RASO inilah sebagai perekat dan mengikat dengan erat ditengah masyarakat dalam kehidupan semenjak fase taratak sampai fase nagari. Demikian juga fase selanjutnya, yaitu fase rantau.

‎Karantau madang dihulu

‎Babungo alah babuah balun

‎Marantau bujang dahulu

‎Dikampuang baguno balun

‎Hiu bali balanak bali

‎Ikan panjang bali dahulu

‎Induak cari dunsanak cari

‎Induak samang cari dahulu.

‎RASO mambuahkan malu dan takut berbuahkan budi. Malu laksana humus dalam padang kehidupan bermasyarakat yang berfungsi sebagai biang penyubur dan sebagai dasar untuk bertumbuh kembangnya kehidupan di Minangkabau. Minangkabau bataluak budi, ranahnyo titian tanah baso .

‎Falsafah dasar hidup masyarakat yang demikian makin mempercepat masuk dan berkembangnya agama Islam yang didakwahkan oleh para Guru Mursyid dari berbagai Thariqat Sufi yang berkembang di masa itu.

‎Man Dzaqa ‘Araf, wa Man Lam Yadzuq Lam Ya’rif”. Siapa yang mengalami dia akan mengerti, dan siapa yang tak MERASA tidak akan mengerti.

‎Ini adalah kata-kata bijak para sufi dan para Arifbillah, Guru Mursyid kita, seperti Syaikh Burhanuddin Ulakan, Syaikh Abdurrahman Batuhampar, Syaikh Sulaeman Hasyim, Syaikh Inyiak Cubadak dan lain-lain ‘Ulama Tasawuf yang membimbing Umat dalam menempuh jalan lurus, mendekatkan diri pada Allah.

‎MENGALAMI adalah pengetahuan paling otentik. MERASAKAN adalah pengalaman yang menguatkan KEYAKINAN.

‎Mungkin banyak orang percaya bahwa Allah itu ada dan Maha Kuasa, namun tidak semua orang bisa merasakan keberadaan Allah itu dalam setiap gerak langkah mereka.

‎Ada kalanya seseorang tahu banyak teori tapi belum pernah merasakan buah dari teori yang diamalkan. Adakalanya seseorang tidak banyak teori tapi sudah merasakan buah dari teori yang diamalkannya.

‎Menurut pengalaman saya yang dhaif ini adalah "RASO"/ "Dzuq" akan tiba dahulu lalu menyusul teori yang datang kemudian sebagai suatu petunjuk untuk menerangkan hal rohani yang dialami.

‎Dan kebenaran itu bukan hanya terlatak akan aqal pikiran dan hati tetapi juga pada rasa,  yakni  “RASO jasmani”  yang dapat dirasakan dengan rasa pahit,  manis,  asam, asin dan sebagainya. 

‎Ada yang disebut rasa-ruhani yang dapat merasakan gembira, sedih, bingung, kecewa, ceria dan sebagainya.

‎Dan terdapat pula pada diri manusia yang disebut rasa nurani rasa yang penuh cahaya “rahmatan lil’alaamin”, karunia  Allah Ta’ala atas segala keshalihan dan ketekunan didalam ketaatannya kepada  Allah Jalla wa azza.🙏❤🇧🇪😊





This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.