Kamang Mudiak, SKJENIUS. COM. - Waspadalah...!! Betapa tidak. Sebelum dinobatkan dalam upacara adat Batagak Pangulu, seorang pangulu (datuak) di Minangkabau harus mengucapkan sumpah sakral yang dikenal sebagai Sumpah Sati atau Sumpah Pangulu.
Di Minangkabau pernyataan sumpah yang dibebankan kepada seorang datuk yang dilewahkan gelar adat amatlah berat.
Secara garis besar, inti dari isi sumpah seorang pangulu adalah berjanji untuk:
1. Menghukum dengan adil dan berkata yang benar (menghukum adia, bakato bana).
2. Memelihara anak dan kemenakan sesuai dengan alur adat yang lurus (mamaliharo anak jo kamanakan manuruik alua nan luruih).
3. Menjaga harta pusaka serta menyelesaikan segala kekusutan di tengah kaum (mamaliharo harato pusako, kusuik ka manyalasai, karuah ka mampajaniah).
KONSEKUENSI SUMPAH YANG SANGAT BERAT
Sumpah ini memiliki konsekuensi metafisik yang sangat ditakuti jika seorang pangulu melanggar amanahnya. Bahaya atau risiko dari melanggar sumpah penghulu (Pangulu / Datuak) di Minangkabau berkaitan erat dengan sanksi adat, moral, dan kutukan spiritual yang sangat berat bagi yang mengabaikannya.
Bahaya atau risiko dari melanggar sumpah penghulu (Pangulu / Datuak) di Minangkabau berkaitan erat dengan sanksi adat, moral, dan kutukan spiritual yang sangat berat bagi yang mengabaikannya. Apalagi, sudah banyak terbukti adanya pangulu yang sudah merasakan/menyalami dahsyatnya kutukan sumpah tersebut.
ISI DAN KALIMAT SUMPAH
Sumpah yang diucapkan saat prosesi batagak pangulu atau malewakan penghulu biasanya berlandaskan pada Al-Qur'an 30 juz dengan kalimat kutukan khas yangbberbunyi;
"Dikutuk Kalamullah, dikutuk Al-Qur'an 30 Juz, dimakan biso Kawi: Ka ateh indak bapucuak, ka bawah indak baurek, di tangah-tangah digiriak kumbang."
Arti dari sumpah ini ialah, kena kutukan Al-Qur'an dan terkena biso Kawi.
Biso kawi berasal dari kata biso (bisa/racun/kekuatan gaib atau sumpah sakti) dan kawi (kuat, ampuh, atau ketetapan hukum adat yang tidak boleh diubah).
Selanjutnya kehidupan Pangulu yang melanggar sumpah itu, digambarkan : "Di bagian atas tidak berpucuk, dan bagian ke bawah tidak berurat, serta di tengah-tengahnya digerogoti oleh kumbang."
Pepatah ini diibaratkan sebuah tumbuhan, yang dimana tumbuhan yang subur itu ialah tumbuhan yang memiliki pucuk atau tunas yang tumbuh segar dan daunnya yang hijau, memiliki akar yang kuat dan kokoh agar dapat menopang semua bagian pohon dan dapat menyalurkan semua nutrisi dari tanah ke bagian tumbuhan lainnya dan juga pada bagian batang pohon memiliki batang yang sehat tidak dimakan oleh kumbang.
Namun pada pepatah ini diibaratkan sebuah pohon yang tidak memiliki pucuk, tidak berakar dan juga batang pohonnya yang dimakan kumbang, yang artinya pohon tersebut tidak akan tumbuh besar.
Makna kalimat ka ateh indak bapucuak, pada dasarnya yaitu hidup orang yang terkena sumpah ini akan menjadi sakit-sakitan. Bahkan, harta dan keluarganya pun berantakan.
Makna kalimat ka bawah indak baurek, yaitu meski sudah jatuh sakit, namun tidak kunjung mati. Misalnya terkena Alzheimer atau kanker otak.
Dan makna kalimat di tangah-tangah digiriak kumbang, ialah seluruh badan di jangkit penyakit yang tidak ada obatnya dan apabila mati tanpa dapat maaf dari anak dan keponakannya yang dipastikan masuk neraka. Bisa jadi saudara- saudara kandungnya pun meninggal tidak wajar, sehingga dia tinggal sendiri, kesepian dalam kondisi sakit kronis. Naudzubillah min dzalik...!!
“THE MIDAS TOUCH IN REVERSE”
Kondisi mere“THE MIDAS TOUCH IN REVERSE”ka yang "DIMAKAN SUMPAH" ini sering juga diungkapkan dengan istilah,
"Sado nan di awai layua, sagalo nan dikakok mati" (atau sering juga diucapkan "Sado nan diungkai layua, sado nan dikakok mati").
Secara harfiah, kalimat ini berarti "Semua yang disentuh layu, semua yang dipegang mati."
Pepatah ini digunakan untuk menggambarkan seseorang yang selalu tidak beruntung, bernasib sial, atau selalu gagal dalam setiap usahanya. Apa pun pekerjaan, bisnis, atau perkara yang ia tangani, hasilnya selalu berujung pada kegagalan atau kehancuran, mirip dengan istilah bahasa Inggris “the Midas touch in reverse” (kebalikan dari sentuhan Midas). (az)



