Sementara sebagian masyarakatnya masih terlena dan bangga pada kejayaan masa lampau dan romantisme sejarah. Politisi lokal yang terjebak identitas dan romantisme masa lalu ikut memperlambat kemajuan. Elite politik lebih sibuk mempertahankan citra daripada gagasan. Jika tidak ada perubahan, Sumbar akan makin tertinggal. Pasalnya, Minangkabau Butuh Lompatan, Bukan Nostalgia‼️😊
Orang Minangkabau memang memiliki rekam jejak historis yang luar biasa, mulai dari melahirkan deretan pemikir bangsa, tokoh-tokoh ekonomi, hingga tradisi merantau yang membentuk ketahanan budaya. Namun, romantisme ini memiliki dua sisi yang kontras jika dilihat secara kritis:
A. SISI POSITIF: Identitas dan Motivasi (Pendorong)
1. Inspirasi Tokoh Bangsa
2. Etos Merantau
3. Pendidikan dan Literasi
B. SISI NEGATIF: Jebakan Romantisme (Penghambat)
1. Kehilangan Daya Inovasi
2. Mitos Superioritas
3. Tuntutan Sosial.
Di Minangkabau, gagasan tentang kemajuan adalah inti dari konflik-konflik kaum cendekiawan dalam beragam pokok masalah seperti adat dan agama. Oleh Karena itu, kebangkitan peradaban Minangkabau adalah proses dinamis yang memadukan warisan leluhur dengan nilai-nilai Islam melalui filosofi Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK). Kebangkitan ini terus bertransformasi hingga kini, memperkuat identitas egaliter, musyawarah (mufakat), serta peran intelektual masyarakatnya di masa kini.
Berdasarkan Kajian dan Penelitian Dewan Kemakmuran Surau Suluak Inyiak Cubadak, dalam masyarakat Minangkabau ada tiga pilar yang menopang kebangkitan dan menjaga keutuhan budaya serta adat istiadat, yaitu :
1. Babaliak Basurau,
2. Babaliak Banagari,
3. Mengembangkan Ilmu Pengetahuan.
SURAU merupakan suatu institusi pendidikan Minang yang menyatu dengan kehidupan budaya. Menurut filosofi dasar pendidikan di SURAU, antara ilmu, akal, iman, akhlak adalah satu kesatuan yang diawujudkan secara konsisten dalam perilaku sehari-hari.
Surau adalah lembaga pendidikan dan pusat kebudayaan yang berfungsi ganda sebagai tempat ibadah, pusat kajian agama/Tasawuf (Thariqat), dan ruang musyawarah untuk mendalami Adat Minangkabau.
"Babaliak ba Nagari" adalah gerakan kultural dan administratif masyarakat Minangkabau untuk memulihkan sistem pemerintahan adat asli nagari yang sempat digantikan oleh sistem pemerintahan desa pada era Orde Baru.
Makanya, membangun dari nagari harus menjadi konsep pembangunan ekonomi dan sosial yang berfokus pada akar rumput, dengan menjadikan nagari (kesatuan masyarakat hukum adat) sebagai pilar utama kemandirian. Gerakan ini mendorong ekonomi tumbuh dari bawah melalui partisipasi aktif masyarakat, pemanfaatan kearifan lokal, dan dukungan perantau.
Selanjutnya orang Minangkabau harus mengembangkan ilmu pengetahuan sejalan dengan akar budaya serta sejarah masyarakatnya. Hal ini dibuktikan oleh falsafah, tradisi, dan warisan intelektual yang telah mengakar kuat. Budaya dan tuntutan penguasaan ilmu bagi orang Minangkabau tercermin dalam beberapa aspek berikut:
1. Falsafah "Alam Takambang Jadi Guru",
2. Tradisi Merantau untuk Menuntut Ilmu, 3. Agama dan Adat yang Selaras,
4. Tantangan Modern.
Akhirul Kalam, Ranah Minang harus kembali tampil dengan memiliki identitas sebagai "industri otak" (penghasil cendekiawan). Konsep ini merujuk pada budaya masyarakat Minangkabau yang sangat menghargai pendidikan, ilmu pengetahuan, dan merantau untuk melahirkan tokoh-tokoh besar bangsa. Semoga...! (az)



