Jakarta, SKJENIUS.COM,- Kekeliruan utama Tan Malaka dalam menolak logika mistika (dalam Madilog) adalah pandangannya yang cenderung menyamakan seluruh aspek mistisisme atau kepercayaan spiritual dengan penyebab kebodohan sosial dan kemunduran bangsa, seringkali mengabaikan fungsi kultural atau nilai sosial-budaya di balik pola pikir tersebut.
Padahal Mistik adalah Jalan Peradaban Nusantara. Hal ini merujuk pada perpaduan mendalam antara sejarah peradaban kuno, situs megalitik, dan kepercayaan spiritual (ghaib/mistis) yang membentuk kebudayaan Indonesia. Ini mencakup narasi tentang situs purba maju yang hilang (seperti Gunung Padang), ilmu Titen, Membaca Garis Tangan, Astrologi/Ilmu Falaq, serta Harmoni Spiritual dengan Sains, Alam dan Warisan Leluhur.
Namun, Tan Malaka keliru karena menyamakan kepercayaan pada hal gaib secara umum sebagai penyebab langsung kemunduran, serta terkadang menyeret aspek agama sebagai akar masyarakat mempercayai logika mistika.
Makanya, dalam upaya Tan Malaka mendorong rasionalitas (sains), ia dinilai kurang melihat bahwa logika mistika pada masyarakat adat seringkali merupakan bentuk pertahanan budaya atau cara adaptasi manusia terhadap situasi tak terkendali.
Karena itu Tan Malaka sangat keliru ketika menolak logika mistika yang mengaitkan fenomena sosial-ekonomi dengan roh atau klenik, dan semata mendorong penggunaan sains/logika untuk kemajuan bangsa.
Padahal Peradaban Indonesia tidak bisa hanya dibangun dengan kekuatan logika dan sains. Namun peradaban Nusantara dibangun atas filosofi alam dan kearifan lokal, bukan sekadar infrastruktur fisik.
Konsep ini menggabungkan studi arkeologi dengan narasi budaya lokal untuk memahami akar sejarah Indonesia yang mendalam dan sering kali penuh misteri.
Peradaban Nusantara sering menonjolkan harmoni dengan orang lain dan alam, di atas kepentingan pribadi. Mistik di Nusantara, termasuk yang berasal dari Minangkabau, Jawa dan Dayak, dikenal kuat dan berakar pada kepercayaan terhadap kekuatan supranatural. (az)



