-->
logo

MADILOG, SOLUSI ATAU KEKELIRUAN BERPIKIR ⁉️🤭 Tan Malaka Memusuhi Mistik, Agama & Menolak Hal Ghaib.

Hot News

Hotline

MADILOG, SOLUSI ATAU KEKELIRUAN BERPIKIR ⁉️🤭 Tan Malaka Memusuhi Mistik, Agama & Menolak Hal Ghaib.


Cikarang, SKJENIUS.COM.- Belakangan ini Buku Madilog (Materialisme, Dialektika, dan Logika) karya Tan Malaka ramai dibedah dan didiskusikan. Bahkan, Madilog sering dianggap sebagai solusi pembebasan mental. 

Padahal isi bukunya memuat banyak perdebatan dan kekeliruan, terutama karena ia mendasarkan logikanya pada Marxisme murni tanpa sikap kritis. Banyak pakar menilai bahwa pandangan Tan Malaka sangat subjektif dan reduksionis. 

Maka, sikap terbaik kita atas kekeliruan atau kelemahan dalam buku Madilog karya Tan Malaka adalah dengan menjadikannya bahan diskusi kritis, bukan doktrin yang kaku. 

Kritik utama terhadap "Madilog " berpusat pada bias ideologisnya yang condong pada Marxisme dan pemaksaan hukum dialektika terhadap fenomena alam. Akibatnya, pandangan tersebut dinilai mereduksi kompleksitas spiritualitas serta melahirkan beberapa kelemahan filosofis. 

Pemikiran Tan Malaka terkait materialism dan dialektika berasal dari pemikiran Marx, bahkan tanpa sikap kritis terhadap pemikiran-pemikirannya. 

Berikut adalah beberapa bentuk kekeliruan atau kelemahan yang kerap dikritik dari Madilog: 

1. Penyamaan Logika Mistik dengan Agama dan Spiritualitas: Tan Malaka mengidentifikasi logika mistika (kepercayaan pada roh dan hal gaib) sebagai faktor utama keterbelakangan bangsa. Namun, ia dianggap keliru karena menyamaratakan seluruh keyakinan agama dogmatis sebagai bentuk ketidakrasionalan, padahal banyak tradisi keagamaan juga memiliki tradisi ilmiah yang kuat. 

2. Kelemahan Dialektika Materialisme: Tan Malaka menerapkan hukum dialektika ke dalam hukum kebendaan/alam. Para kritikus menilai ini sebagai kesalahpahaman, karena hukum alam bekerja secara statis dan universal, sementara hukum dialektika hanya berlaku pada proses sosial dan gagasan, bukan pada benda mati. 

3. Bias Ideologis yang Kuat: Di balik klaim obyektivitas dan pendekatan ilmiahnya, Madilog sarat akan nuansa ideologis. Kerangka berpikirnya sering kali dipaksakan untuk membenarkan pandangan tertentu—terutama materialisme Marxisme—sehingga menjadikannya lebih sebagai karya ideologis ketimbang kajian filsafat murni. 

4. Kritik Terhadap Tokoh Filsafat Lain: Dalam membedah logika, Tan Malaka dinilai kurang akurat dalam mengkategorikan tokoh filsafat Barat. Misalnya, ia mengklasifikasikan David Hume dan Spinoza ke dalam kubu idealis secara kaku, padahal literatur filsafat modern mengategorikan mereka sebagai naturalis. 

Dengan demikian, sangat keliru jika Meng-Agungkan Madilog sebagai Solusi dan Pencerahan atas kebuntuan berpikir saat ini. 

Justru sebaliknya, Madilog harus diwaspadai karena di dalamnya ada jebakan yang bisa membawa kita kepada kemunduran berpikir, kenapa? 

1. Sebagai orang beriman kita menyadari sepenuhnya banyak hal di dunia ini tidak terindera dan tidak memiliki satuan, semisal kebahagiaan, rasa kemanusiaan, rasa ketenangan hati, empati, dan lainnya. Padahal berbagai hal yg tidak terindera dan tidak memiliki satuan ini justru yang dibutuhkan manusia agar tetap menjadi manusia. 

2. Pemikiran-pemikiran Tan Malaka belum tervalidasi di arena politik formal, sehingga tidak bisa dijadikan dasar, apalagi diterapkan dalam upaya kita membangkit dan mengembangkan peradaban bangsa. 

3. Tan Malaka sendiri banyak menemukan kegagalan dalam hidupnya dengan prinsip madilognya, jadi seorang pria gagal, jadi politisi juga gagal, maka tidak logis jika kita malah mengikuti cara berpikir manusia yang banyak menemukan kegagalan dalam hidupnya. 

Untuk itu, marilah kita jadikan "Madilog" sebagai objek "dialektika". Alih-alih mengagumi secara dogmatis atau menolaknya mentah-mentah, kita harus memposisikan gagasan Tan Malaka sebagai bahan diskusi, evaluasi, dan alat untuk mempraktikkan pikiran merdeka. (az)

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.