Bukittinggi, SKJENIUS.COM.- Orang Minangkabau memliki jiwa kepemimpinan, berpikir merdeka, bersikap independent, berprilaku mandiri, berpendapat otonom. Sehingga, jika berkumpul 10 (sepuluh) orang, bukan hanya akan muncul 10 pendapat. Namun bisa jadi 1 orang punya 9 argumen untuk mematahkan hasil pemikiran dari 9 orang yang hadir.
Maka dapat Anda bayangkan berapa lama dan sulitnya suatu musyawarah berlangsung sampai tercapai kata mufakat. Bukan mustahil, bisa berhari-hari, berminggu-minggu. Bahkan bisa berbulan-bulan baru ada kata sepakat. Hal ini disebutkan dalam pepatah "Bulek nyo lah dapek digolongkan, picak nyo lah dapek dilayangkan" yang bermakna mufakat telah tercapai.
Secara harfiah, pepatah ini memiliki arti:
1. Bulek nyo lah dapek digolongkan: Sesuatu yang bulat sudah bisa digulirkan atau disatukan dalam wadah/kesepakatan.
2. Picak nyo lah dapek dilayangkan: Sesuatu yang pipih (datar) sudah bisa dilayangkan atau diratakan sama tinggi.
Dalam adat Minangkabau, ini adalah simbol bahwa musyawarah telah mencapai kata sepakat. Segala perbedaan pendapat telah disatukan, dan keputusan bersama sudah bulat untuk dilaksanakan.
Namun demikian setelah bermusyawarh berhabis hari, bisa juga terjadi mereka, justru "Sepakat untuk Tidak Sepakat." Dalam tradisi dan sejarah Minangkabau, istilah yang merujuk pada kesepakatan untuk tidak sepakat (berbeda pendapat) secara damai sangat erat kaitannya dengan filosofi "bulek aia dek pambuluah, bulek kato dek mupakaik".
Meskipun begitu, jika dua tokoh pendiri adat (Datuk Ketumanggungan dan Datuk Perpatih nan Sabatang) memiliki perbedaan pandangan yang tidak bisa disatukan, keduanya mengambil jalan "sitawa jo sidingin" dengan konsep "bulek mupakaik, basalisiah paham" (sepakat dalam mufakat untuk membiarkan perbedaan pemahaman tersebut).
Nampaknya orang Minangkabau sulit bersatu karena tingginya jiwa indenpendensi mereka. Parahnya lagi, watak mandiri (ego individual), dan sikap kritis yang melekat pada kultur masyarakat Minangkabau sering kali dinilai sebagai faktor yang membuat mereka lebih sulit disatukan dalam satu komando atau kepentingan kelompok.
Masyarakat Minangkabau sangat menghargai pendapat pribadi dan anti terhadap paksaan. Namun demikian, mereka mudah bersatu dan cepat memutus kata sepakat jika sedang berada di antara empat tempat berikut ini :
1. SURAU : Surau bukan hanya tempat ibadah, melainkan jantung dan episentrum budaya masyarakat Minangkabau. Di sinilah persatuan sejati terbentuk karena surau memadukan pendidikan agama, Thariqat (spiritualitas) penanaman karakter moral, dan pelestarian adat istiadat secara turun-temurun.
Generasi muda dididik mandiri, belajar mengaji, dan menimba ilmu bela diri (silek) yang menumbuhkan rasa persaudaraan yang kuat.
2. LAPAU : Warung tradisional yang menyediakan makanan dan minuman ringan (seperti kopi dan jajanan pasar). Lebih dari sekadar tempat makan, lapau berfungsi sebagai pusat interaksi sosial, tempat bertukar informasi, dan wadah bagi masyarakat untuk berdiskusi serta mengasah kemampuan berargumentasi.
Lapau dikenal sebagai ruang sosial yang egaliter dan penuh keakraban. Tempat ini menjadi episentrum interaksi, masyarakat berkumpul, berdiskusi, dan mempererat tali silaturahmi tanpa memandang status sosial. Makanya sesama orang Lapau, selalu akur.
3. DANGAU : Sebuah pondok atau gubuk kecil yang terletak di tengah area persawahan atau ladang. Dangau berfungsi sebagai ruang sosial dan pendidikan informal di mana , bergurau, basaluang dan berkesenian lainnya.
Sesama seniman selalu bersatu yang menjadi fondasi penting dalam membangun ekosistem kreatif yang kuat.
4. RANTAU : Kawasan atau daerah di luar kampung halaman. Orang Minangkabau pergi meninggalkan daerah asal dalam jangka waktu lama untuk mencari nafkah, menuntut ilmu, atau mencari pengalaman.
Semangat solidaritas yang tinggi dan persatuan adalah kunci bertahan di tanah rantau. (az)



