Cikarang, SKJENIUS.COM,- Belakangan ini semakin banyak kalangan generasi muda yang gandrung kepada pemikiran Tan Malaka. Namun sayangnya mereka tidak mengetahui kekeliruan dalam pemikiran Tan Malaka. Sehingga pemikiran Tan Malaka tidak bisa dijadikan dasar, apalagi diterapkan dalam upaya kita membangkit dan mengembangkan peradaban bangsa.
Pasalnya pemikiran Tan Malaka itu mengawang-awang, alias tidak menapak di Bhumi Nusantara. Karena itu terdapat beberapa kekeliruan yang perlu dikoreksi dari pemikiran Tan Malaka, yaitu:
1. Pemikiran Tan Malaka berazaskan Komunisme,
2. Pemikiran Tan Malaka Tidak Berakar pada Budaya Spiritual Nusantara,
3. Tan Malaka Menolak Logika Mistika Nusantara,
4. Pemikiran Tan Malaka Belum Selesai
5. Pemikiran Tan Malaka Belum Tervalidasi dalam Sistem Formal Negara
Namun demikian, sekalipun belum tervalidasi secara formal, pemikiran Tan Malaka tetap relevan sebagai kritik sosial, terutama dalam hal nasionalisme inklusif, kemandirian bangsa, dan pendidikan yang membebaskan.
Pemikiran Tan Malaka, yang sering digadang-gadang sebagai "Bapak Republik" namun terlupakan, memang memiliki posisi unik dan dianggap belum tervalidasi atau terintegrasi sepenuhnya dalam sistem formal negara Indonesia.
Meskipun gagasannya menarik untuk diperdebatkan, namun pemikiran tersebut seringkali dipinggirkan karena alasan politik historis dan radikalitas konsepnya. Berikut adalah beberapa alasan mengapa pemikiran Tan Malaka belum tervalidasi dalam sistem formal:
TIDAK BERAKAR PADA BUDAYA NUSANTARA: Pemikiran Tan Malaka kurang terkenal dan kurang mendapat tempat dalam sejarah resmi karena pemikirannya berakar pada ajaran komunis, meskipun ia memiliki perbedaan fundamental dengan PKI.
MENOLAK LOGIKA MISTIKA: Kekeliruan utama dalam menolak logika mistika sering kali terletak pada cara pendekatannya yang mengabaikan struktur simbolik, imajinatif, dan pengalaman batin manusia, serta kecenderungan menyamakan semua bentuk kepercayaan spiritual sebagai "takhayul" yang menghambat kemajuan.
Sementara logika mistika—menurut Madilog Tan Malaka—adalah penghambat kemajuan, menolaknya sepenuhnya tanpa memahami peran simbolik-imajinatif dalam eksistensi manusia dapat mereduksi pengalaman hidup menjadi sekadar fakta objektif.
KOREKSI/TINJAUAN: Pandangan ini dapat ditinjau ulang bahwa mistisisme tidak selalu menghambat kemajuan. Mistisisme, jika dipahami secara progresif dan revolusioner, justru dapat menjadi sumber inspirasi budaya dan spiritualitas yang memperkaya pemikiran rasional, bukan melawannya.
KESALAHAN GENERALISASI AGAMA: Kekeliruan sering terjadi ketika menganggap seluruh agama adalah bagian dari logika mistika yang menghambat nalar. Sejatinya, ajaran Islam, justru menekankan nalar dan menolak cara berpikir mistik yang tidak berdasar.
MENGABAIKAN KONTEKS BUDAYA: Menggunakan rasionalitas mentah tanpa memahami konteks simbolik atau budaya lokal yang melatarbelakangi kepercayaan tertentu, berpotensi menciptakan alienasi sosial.
Mengoreksi atau meninjau ulang pemikiran Tan Malaka bukan berarti meniadakan kontribusinya, melainkan menempatkan gagasannya dalam konteks zaman yang berbeda (relevansi kekinian). Tan Malaka adalah pemikir brilian yang sering kali melampaui zamannya, namun beberapa pandangannya dapat dikritisi berdasarkan hasil, data, dan situasi saat ini. (az)



