Saudaraku ❤️ Being Smart is not Enough for your Career Success🙄 Pengetahuan yang hanya dihasilkan oleh kesadaran psikis (bukan spiritual) dan RASIONAL hanyalah bersifat terbagi-bagi dan sementara. Demikian juga wawasan, penelitian, kecerdasan, bagian intelektual dari dunia ini, mungkin dapat membawa Anda ke tempat tertentu, namun setelah itu Kecerdasan Emosional (EQ) dan Kekuatan Spiritual (SQ) yang menentukan. Realitanya sering terjadi, mengapa beberapa orang yang benar-benar pintar gagal di tempat yang lain, orang yang kurang pintar berhasil? Maka, menjadi PINTAR saja TIDAK CUKUP🤭
Oleh sebab itu, perlu kita SADARI bahwa ILMU PENGETAHUAN yang akan membawa kebahagiaan, kesejahteraan dan kedamaian, hanyalah akan dapat diraih bila seseorang telah membuka mata hatinya, atau visi intellectusnya, lalu senantiasa mengadakan pendakian rohani (suluk) ke arah TITIK pusat lewat hikmah spiritual Islam. Maka, Ilmu pengetahuan itu jangan hanya berfungsi mengembangkan kekuatan ratio atau pikiran saja. Tetapi juga harus mampu mendorong manusia untuk memiliki kepekaan intuisi sehingga dapat menangkap getaran-getaran RUHANI.
Pasalnya, agar memiliki ketajaman nalar (DAYA CIPTA), NALAR harus bisa menangkap makna yang terbersit dalam nurani. Jangan sampai lengah, sebab proses untuk menangkap getaran-getaran Ruhani hanya berlangsung secepat kilat.
Sedangkan GETARAN Nurani, berupa INTUISI dan FIRASAT, hanya dapat DIDETEKSI dengan Ketajaman RASA. Jadi, Manusia UNGGUL itu adalah manusia yang memiliki kecerdasan pikir dan rasa. Bukan hanya manusia rasional tapi juga yang mempunyai kepekaan hati-nurani. Sebab ada hal-hal yang secara Ratio tidak tertangkap tapi ia terjaring lebih dahulu oleh rasa. Inilah yang sering disebut ketajaman FEELING, insting atau ketajaman nurani.
Dengan demikian, jika DAYA intelektualitas manusia dipadukan dengan kejernihan BATIN akan membuat radar ruhani menjadi peka dalam menangkap getaran-getaran Ilahiah. Sehinga dapat dijadikan kompas yang selalu mengarahkan seluruh perjalanan hidupnya ke jalan keridaan Allah.
Mereka yang peka radar rohaninya tentu memiliki kekuatan dan kepekaan terhadap getaran-getaran spiritual. Sehinga dia mampu mendeteksi seluruh gerak-gerik hati, pikiran, dan perilakunya sendiri. Sehingga selalu berusaha agar sesuai dengan petunjuk Allah.
Jadi, KRISIS dari semua krisis kemanusiaan yang terjadi di zaman now ini adalah tiadanya optik spiritual dan radar ruhani dalam memandang dunia. Karena itulah manusia
modern pun teralienasi (terasing) dari dirinya. Pasalnya, dia hanya mengenal dunia eksternal yang bersifat material.
Horizon pikir dan aksi pun pun menjadi sangat materialistik dalam memandang dunia. Orientasi hidup manusia modern berujung pada akumulasi kebahagiaan material. Akhirnya, manusia modern tidak mengenal lagi fitrah dirinya “YANG SPIRITUAL”.
Semoga semakin banyak yang menyadari pentingnya Kepekaan Intuisi Ketajaman Feeling dalam Dunia Kerja dan Bisnis.
Kepekaan intuisi dan ketajaman feeling adalah kemampuan memahami situasi, orang, atau masalah secara instan tanpa analisis logis mendalam, seringkali muncul sebagai firasat atau bisikan hati, didasari pengalaman masa lalu, dan bisa diasah lewat zikir, menulis jurnal, menyendiri, serta mengamati alam dan diri sendiri untuk membangun koneksi lebih dalam, yang membantu pengambilan keputusan cepat dan tepat. (az).



