Di tengah kesibukan yang luar biasa padat kami memutuskan untuk I'tikaf di Masjid Baiturrahman, Cikarang, Kab. Bekasi, Jawa Barat. Tujuannya melakukan penyegaran spiritual agar karir, hajad dan apapun aktivitas kami selalu mendapatkan keridhoaan Allah SWT.
Alhamdulillah, "Rasa Energi" itu tak pernah berubah. Energi spiritual yang tak pernah menipis sama sekali. Ttp sama seperti belasan tahun lalu.
Dalam kesejukan paduan hujan dan angin di masjid malam itu, semesta serasa berbisik pelajaran bagi jiwa yang mencari. Ini adalah pengembaraan ke dalam keheningan diri, di mana setiap detik menawarkan peluang untuk menemukan kebenaran yang lebih dalam.
BERCENGKRAMA dengan SEPI
Ketika cakrawala mulai menelan matahari, dan langit berubah menjadi kanvas hitam, malam datang tanpa suara. Hanya angin yang mengusik sepi. Bintang-bintang berkelip di langit. Seperti mata yang menyimpan banyak rahasia.
Keheningan ini, penuh makna, Menemani hati yang melangkah dalam sepi. Di bawah langit yang gelap, terkubur rindu dan segala harapan.
Malam awal I'tikaf membuka arena dialog antara manusia dan Allah Sang Pencipta. Di mana setiap kata dalam do'a menjadi saksi atas keintiman yang terjalin. Ibadah bukan sekadar rutinitas, melainkan tarian hati yang mengalir dengan irama ketulusan, melukiskan harapan dan kerinduan pada kanvas keabadian.
Dalam lipatan waktu yang sunyi, manusia diajak untuk merenung. Mengintrospeksi diri, mencari jejak-jejak kesalahan yang tersembunyi. Lalu, memetik pelajaran dari kesalahan dan menyemai benih-benih perbaikan.
Seperti sahabat lama yang datang mengunjungi, I'tikaf ini membawa kesempatan untuk menyegarkan kembali janji dan komitmen spiritual. Setiap malam menjadi kesempatan untuk mengikat kembali tali yang mungkin telah kendur, menemukan kembali esensi yang mungkin telah lupa. Ketenangan malam memberi ruang bagi jiwa untuk mendengarkan bisikan hati, menjawab pertanyaan-pertanyaan yang terpendam, menghadirkan ketenangan dalam kepastian iman.
Dalam kesendirian malam, kami melanjutkan Safari Kebatinan. Bercengkrama dengan sepi, Menjelajah ke dalam Diri. Introspeksi dalam keremangan malam I'tikaf bukanlah sekedar evaluasi diri, tetapi lebih merupakan perjalanan ke dalam.
Menggali apa yg terpendam dalam kedalaman jiwa, menghadapi ketakutan dan kekurangan, serta merayakan kekuatan dan keberhasilan.
Seiring dengan, setiap malam dalam I'tikaf, penuh harapan untuk mendapatkan Pencerahan Batin (Inner Enlightenmen) dari Sang Pencerah.
Pasalnya pencerahan (illumination) adalah anugerah, bukan pencapaian. Ia diberikan, bukan diperoleh. Kita memasuki kesadaran yang sepenuhnya baru tentang Diri yang Lebih Tinggi, Allah, Alam Semesta, Kesadaran, dll.
Seperti yang dikatakan dalam banyak tradisi teistik, Allah datang untuk berdiam di dalam qalbu hambanya yang beriman, dan kehadiran itu tetap bersama Kita ke mana pun Kita pergi.
Menurut Guru Mursyid, Syaikh Inyiak Cubadak inilah yang disebut "Fana fillah, Baqa Billah", lebur dalam Keagungan Allah dan Tetap Bersama-Nya.
Kita diberi karunia "Manunggaling Kawulo Gust", yang berarti "penyatuan hamba (kawula) dengan Allah (gusti)", di mana manusia mencapai kesatuan batin yang mendalam dengan Allah atau esensi Ilahiyah.
Guru Mursyid kita, Syaikh Inyiak Cubadak mengajarkan bahwa alam semesta dan manusia adalah perwujudan kesadaran Ilahiyah, mencapai kesempurnaan melalui kesadaran spiritual mendalam hingga merasa lebur dengan-Nya,
Dari keadaan ini, seseorang mengalami kedamaian batin yang mutlak dan kemurnian pikiran/kemurnian hati. Seseorang menjadi seperti anak kecil, hidup dengan ketulusan yang sempurna, tanpa topeng. Karakter kebajikan dan kebijaksanaan yang agung muncul. Kita melihat semua hal bersatu dan dipenuhi oleh Roh Kasih Yang Agung, dan kita memahami sifat Kasih yang penuh dan lengkap. (az)



