Parahnya lagi, di kancah Politik Nasional, Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang digadang-gadang sebagai "Rumah Besar Umat Islam", jangankan menang dalam Pemilu Legislatif, lolos pun tak mampu masuk Parlemen. Apalagi di sektor bisnis, umat Islam masih jauh tertinggal. Kondisi ini membuat posisi ekonomi umat Islam cenderung tidak menjadi penentu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Kenapa Umat Muslim Kalah Bersaing Dengan Umat Agama Lainnya⁉️🤭 Inilah pertanyaan yang ramai diperbincangkan dan dibahas dalam berbagai diskusi dan seminar.
Jawabannya pun beragam, antara lain mengungkapkan kemunduran sebagian umat Islam dalam persaingan global sering dikaitkan dengan perpecahan internal, rendahnya penguasaan ilmu pengetahuan/teknologi, kurangnya etos kerja produktif, serta terjebak pada konflik politik.
Namun demikian, sebagai seorang Spiritual Business Consultant yang berpengalaman selama 30 tahun, ingin mengingatkan kita semua bahwa kegagalan Umat Islam dalam persaingan Politik, Ekonomi dan Budaya Global maupun Nasional adalah akibat Semakin Redupnya Cahaya Spiritual Kaum Muslim.
Disadari atau tidak sebagian besar bUmat Islam mengalami Krisis Spiritual karena itulah mereka kalah bersaing. Cahaya spiritual redup itu merujuk pada menurunnya energi batin, hilangnya motivasi, rasa lelah secara jiwa (spiritual burnout), atau menipisnya keyakinan diri, yang mengakibatkan seseorang tidak mampu tampil maksimal dalam persaingan kehidupan atau pekerjaan.
Sehubungan dengan hal tersebut, saya mengajak Kaum Muslim untuk menjadikan Ramadhan sebagai Momentum Transformasi Spiritual dalam Meningkatkan Kualitas Energy Batin kita. Ramadhan adalah kesempatan emas untuk bertaubat, memperbaiki ibadah, dan mendekatkan diri kepada Allah, sehingga nasib spiritual yang redup dapat bercahaya kembali.
Transformasi spiritual adalah perubahan mendalam, seringkali internal, dalam diri seseorang mengenai tujuan, makna, dan hubungan dengan hal-hal sakral, beralih dari kehidupan yang berpusat pada diri sendiri ke kehidupan yang lebih sadar dan dipimpin oleh rohani.
Transformasi ini melibatkan perubahan karakter, perilaku, dan pandangan dunia yang langgeng-sering digambarkan sebagai perpindahan dari hati yang "keras" ke hati yang "lembut"- yang sering dipupuk melalui praktik-praktik seperti do'a, zikir, atau menerobos "zona nyaman" pribadi.
ASPEK-ASPEK PENTING dari PROSES ini MELIPUTI:
1. Hakikat Perubahan: Perubahan bukan sekadar modifikasi perilaku, tetapi perubahan mendasar dalam diri, di mana pola-pola lama yang membatasi digantikan oleh cara hidup baru yang lebih bebas.
2. Faktor pendorong: Meskipun sering berakar pada tradisi keagamaan, misalnya, Hidayah (campur tangan Allah dalam tradisi Islam), hal ini juga dapat berupa pergeseran menuju keadaan yang lebih sadar dan terbangun.
3. Proses & Praktik: Ini melibatkan pembinaan aktif melalui disiplin seperti kesendirian, keheningan, dan Tadabbur Al-Qur'an, daripada hanya menunggu perubahan ajaib.
4. Tanda-tanda: Indikatornya sering meliputi peningkatan kerentanan, pelepasan emosi yang intens, dan hubungan yang lebih dalam, lebih welas asih, dan penuh kasih sayang terhadap orang lain.
A JOURNEY TO INCREASE SPIRITUAL ENERGY
Perjalanan untuk meningkatkan energi spiritual melibatkan pengembangan praktik harian yang menumbuhkan kedamaian batin, kesadaran diri, dan hubungan dengan tujuan yang lebih tinggi.
Tindakan kunci meliputi zikir secara teratur, menghabiskan waktu di alam, mempraktikkan rasa syukur, melakukan tindakan kebaikan, dan menulis jurnal. Proses ini membutuhkan kesabaran, cinta diri, dan mengatasi rasa takut.(az)



