Para 'ULAMA SUFI memiliki KECERDASAN SPIRITUAL yang MUMPUNI ketika BERDAKWAH dalam mengembangkan Islam di tengah Masyarakat Nusantara.
Beliau para Guru Mursyid kita, secara EFEKTIF menggunakan atribut, budaya lokal dan LAKU SPIRITUAL Nusantara sebagai media dakwah untuk menyebarkan Islam di Nusantara secara damai, melalui pendekatan akulturasi yang tidak memaksa.
Beliau mengadopsi tradisi dan nilai-nilai setempat, kemudian mengisi, sekaligus menyempurnakannya dengan ajaran Islam, terutama disiplin Thariqat Sufi.
Berbagai LAKU SPIRITUAL Nusantara itu diadaptasi, namun sebelumnya dibersihkan dari aspek syirik, khurafat dan mistik.
Sehingga Laku Spiritual itu BERTRANSFORMASI menjadi Praktik Spiritual yang sudah DISEMPURNAKAN dengan ajaran Islam, khususnya Disiplin Thariqat Sufi.
Guru Mursyid kita mengakomodasi berbagai praktek spiritual setempat dan mengintegrasikannya dengan unsur-unsur Islami, menjadikannya sarana untuk menjaga kearifan lokal sekaligus meningkatkan pemahaman Islam.
Secara keseluruhan, strategi para Guru Mursyid kita ini menunjukkan sikap moderat dan inklusif terhadap budaya lokal, memastikan Islam diterima sebagai bagian dari kehidupan masyarakat, bukan sebagai ancaman yang menghancurkan tradisi lama.
Contoh LAKU SPIRITUAL yang BERTRANSFORMASI itu antara lain:
1. TIRAKAT : INTI SPIRITUAL NUSANTARA : 'Ulama Sufi memperkenalkan istilah "RIYADHAH", sebagai sebuah gagasan TASAWWUF untuk menginterpretasikan kembali praktik spiritual tradisional Nusantara agar lebih relevan dengan gaya hidup seorang Muslim. "Riyadhah", bertujuan MENGUBAH DIRI dari dalam. secara keseluruhan.
2. SEMEDI (semadi) adalah istilah Nusantara untuk meditasi, berasal dari kata Sansekerta Samadhi. Laku Spiritual untuk menenangkan pikiran dan menyatu dengan batin ini kemudian diubah-suaikan (modifikasi) oleh para 'Ulama Sufi menjadi disiplin sufi yang disebut ZIKIR dan TAFAKKUR.
3. BERTAPA, praktik spiritual disiplin diri untuk mencapai tujuan spiritual dengan mengendalikan hawa nafsu atau memusatkan energi oleh para Guru Mursyid Dimodifikasi menjadi I'TIKAF. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan periode waktu yang dihabiskan dalam isolasi atau keheningan untuk tujuan spiritual.
4. TAPA BISU PUASA ZAKARIA : adalah Satu bentuk LAKU SPIRITUAL sebagai simbol perenungan diri, introspeksi, prihatin, dan memohon keselamatan dengan keheningan menjadi media spiritual untuk mendekatkan diri pada Tuhan. Para 'Ulama Sufi memperkenalkan PUASA ZAKARIA, sebagai bentuk Tapa Bisu yang sesuai ajaran Al-Qur'an.
5. PUASA NGROWOT: Para Guru Mursyid Mengemas Ulang dengan istilah "RIYADHTUN NAFS ( Melatih Diri ): Istilah ini digunakan untuk pola makan dalam waktu tertentu yang fokus pada makanan dari tumbuh-tumbuhan, termasuk sayuran, buah-buahan, biji-bijian, dan umbi-umbian. Jadi sangat mirip dengan pantangan NGROWOT yang mengganti nasi dengan sumber karbohidrat nabati lain.
6. PUASA MUTIH : Guru Mursyid kita memperkenal Puasa Daud sebagai alternatif Puasa Mutih. Puasa mutih memiliki kemiripan dengan pola makan INTERMITTENT FASTING (puasa berselang) dalam hal pembatasan asupan makanan dalam jangka waktu tertentu. Hal ini dimaksudkan untuk memicu AUTOPHAGY (autofagi) adalah proses biologis alami di mana sel-sel tubuh mendaur ulang komponen-komponen tua atau rusak untuk menghasilkan energi dan meregenerasi diri.
7. NYEPI DI KUBURAN, GOA, ATAU TEMPAT SUNYI : Para 'Ulama Sufi memperkenalkan "UZLAH" dan "SULUK". Disiplin Thariqat pengganti NYEPI ini merupakan proses perjalanan spiritual di tempat yang sunyi atau jauh dari keramaian sebagai satu metode mendekatkan diri kepada Allah melalui latihan batin seperti zikir untuk menyucikan jiwa. Selama UZLAH atau SULUK, stimulasi dari satu atau lebih indra dikurangi. Tujuannya bisa untuk relaksasi mendalam, ZIKIR atau eksperimen psikologis.
Semoga semakin banyak Orang Nusantara yang MENYADARI bahwa LAKU SPIRITUAL Nusantara memiliki PERAN PENTING dalam Dakwah di tengah masyarakat Indonesia.🙏❤💎



