-->
logo

Krisis Pangan Dunia Menghantui Indonesia, Bagamana Antisipasi Pemerintah?

Hot News

Hotline

Krisis Pangan Dunia Menghantui Indonesia, Bagamana Antisipasi Pemerintah?


Jakarta, SKJENIUS.COM.- Masya Allah Badan Pangan dan Pertanian PBB memperingatkan rantai pasokan pangan dunia terancam corona. Kelangkaan beras, daging kerbau, daging Sapi dan gula menghantui Indonesia. Akhir bulan lalu, Badan Pangan dan Pertanian PBB (FAO) menyatakan bahwa krisis pangan dunia berpotensi terjadi pada April dan Mei karena rantai pasokan terganggu kebijakan negara-negara dalam menekan penyebaran covid-19. Misalnya, pemberlakuan karantina wilayah atau lockdown, pembatasan sosial, dan larangan perjalanan.

Demikian terungkap dalam, Diskusi Virtual bertajuk “Apa Langkah Pemerintah antisipasi krisis pangan di tengah pandemi COVID-19.” yang diselenggarakan Dewan Perancang Partai Nusantara Bersatu sebagai upaya membantu Pemerintah dalam mengatasi dampak pandemi corona di bidang pangan. “Lockdown dan pembatasan sosial, sangat memengaruhi sektor pertanian. Khususnya di komoditas bernilai tinggi, seperti sayuran dan buah-buahan yang membutuhkan banyak tenaga kerja dalam produksinya. Begitupun sektor peternakan terpengaruh dalam hal pemenuhan pakan hewan ternak, proses penjagalan, serta pengolahan daging,” kata pakar Ketahanan Pangan Aznil Tan.

Menurut Direktur Eksekutif INFUDS (Indonesian Future Development Study), Aznil Tan, pemerintah perlu segera mengantisipasi kemungkinan terjadinya krisis pangan di tengah pandemi COVID-19 seperti yang diprediksi organisasi pangan dan pertanian dunia (Food and Agriculture Organization/FAO). "FAO memrediksi akan terjadi krisis pangan di tengah pandemi COVID-19. Krisis pangan akan terjadi secara global," katanya 

Ia mengatakan hal itu terjadi karena terhambatnya produksi dan rantai pasok akibat kebijakan penanganan pandemi COVID-19 seperti lockdown, social distancing, dan lain-lain. Menurut dia, persoalannya bukanlah pada pertanyaan mungkinkah krisis pangan tersebut juga akan dirasakan di Indonesia yang saat sekarang baru panen padi musim tanam pertama.

"Dalam kondisi pandemi COVID-19 ini, bagi kita yang lebih penting adalah bagaimana menyediakan pangan yang mencukupi, baik secara kuantitatif maupun mutu yang menjamin kesehatan seluruh masyarakat. Penyediaan pangan jangka pendek maupun jangka panjang. Kita belum tahu sepanjang manakah pandemik COVID-19 ini akan memapar," tegas Aznil Tan.

Lebih lanjut, Aznil mengingatkan ada ataupun tidak ada krisis pangan, setiap negara tentu memrioritaskan ketersediaan pangan bagi penduduknya. Oleh karena itu, kata dia, negara negara yang penyediaan pangannya sudah terbiasa bergantung kepada impor, mestinya perlu lebih waspada dan perlu membuat antisipasi lebih keras untuk penyediaan pangan tersebut.

"Beberapa negara sudah memberi sinyal untuk penghentian ekspor pangan, termasuk Vietnam yang biasa mengekspor beras ke Indonesia, juga Rusia yang merupakan pengekspor utama gandum dan bebijian lain," katanya.

Menurut Aznil, ada 2 parameter mengukur ketahanan pangan Indonesia selama wabah Corona berlangsung, apakah aman atau krisis? 

Pertama, kemampuan jangka waktu stok pangan dikonsumsi (barang out) Di masa wabah Corona yang tidak tahu kapan berakhirnya, kita mesti hitung kembali dengan akurat semua stok bahan pangan baik berada di Bulog maupun di pasar lepas (seperti beras, jagung, ikan, daging, telur, cabe, sayur-mayur, minyak goreng, bawang, garam, gula dan berbagai bahan pendukung lainnya).

Parameter kedua, keberlangsungan pasokan pangan tetap ada tersedia (in). Parameter ini untuk mengukur kemampuan ketersediaan pangan tetap kontinue terpasok dalam mengantisipasi kehabisan stok paska Agustus nanti.

“Adalah kekeliruan besar jika hanya menghitung stock yang ada pada saat sekarang saja, tetapi tidak berhitung akan ketersediaan kembali pangan masuk (in), agar stok tetap terjamin aman pada bulan-bulan selanjutnya,” tandas Direktur Eksekutif INFUDS (Indonesian Future Development Study) itu.

Terkait dengan hal itu, dia mengatakan ada beberapa strategi yang dapat dilakukan untuk mengantisipasi krisis pangan, antara lain kelompok tani perlu menghidupkan kembali lumbung padi. Strategi kedua adalah memanfaatkan semua lahan potensial yang ada untuk produksi pangan, baik tanaman, ternak, maupun ikan. Strategi yang ketiga adalah meningkatkan indeks pertanaman (IP) termasuk di lahan sawah. "Urusan pangan adalah urusan hidup mati rakyat. Segera bentuk GUGUS TUGAS PENANGANAN KRISIS PANGAN sebelum petaka itu datang!” Pungkas Aznil Tan. (az).


This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.