Kamang Mudiak, SKJENIUS.COM.- Satu diantara kekayaan karakter orang Minang adalah egalitarianisme. Dalam falsafah hidupnya, setiap orang adalah pemimpin atas dirinya sendiri.
Masyarakat Minangkabau menempatkan setiap individu pada posisi yang setara; pemimpin tidak dipandang secara berlebihan atau terpisah secara ekstrem dari yang dipimpin.
Pepatah adat sering menggambarkan hal ini melalui konsep memperbaiki keadaan (restorasi) berbasiskan semangat bangkit kembali (resilience) dari keterpurukan yang dikenal dalam pepatah "Mancabuik Tareh Tabanam" atau juga tercermin dalam konsep kepemimpinan, posisi penghulu sebagai "duduak samo randah, tagak samo tinggi" (duduk sama rendah, berdiri sama tinggi).
Namun seiring dengan itu, sikap egaliter tersebut juga selaras dengan semangat kolaborasi yang bergelora dalam jiwa anak Minangkabau. Semangat yang berakar kuat pada nilai-nilai adat dan budaya Minangkabau, yang dikenal sangat menghargai musyawarah, kebersamaan, dan gotong royong.
Karena itulah, meskipun terkenal memiliki jiwa perantau dan mandiri yang kuat, orang Minang selalu menekankan bahwa keberhasilan bersama jauh lebih utama dibanding kesuksesan individu.
Berikut adalah prinsip-prinsip utama yang menjadi fondasi semangat kolaborasi orang Minang:
1. Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK): Menjadi landasan moral bahwa kolaborasi harus dilakukan demi kebaikan bersama dan sesuai dengan ajaran agama serta norma adat.
2. "Barek samo dipikua, ringan samo dijinjiang" (Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing): Menekankan kesetaraan dalam bekerja sama, baik dalam menghadapi kesusahan maupun saat menikmati hasil.
3. "Bulek aia dek pembuluah, bulek kato dek mufakaik" (Bulat air karena pembuluh, bulat kata karena mufakat): Setiap langkah atau keputusan besar dalam komunitas, suku, maupun keluarga harus diambil melalui musyawarah untuk mencapai mufakat. Tidak ada keputusan yang dipaksakan sepihak. Semoga🙏❤🇧🇪



