Cikarang, SKJENIUS.COM. - Tan Malaka gagal berkolaborasi dengan poros utama pergerakan kemerdekaan karena perbedaan prinsip diplomasi, sikap oposisi terhadap pemerintah, dan tuntutan kemerdekaan 100 persen.
Tan Malaka adalah pejuang revolusioner yang hidup dalam pelarian panjang dan terasing dari arus utama politik demi mewujudkan kemerdekaan Indonesia sebagaimana dimimpikannya.
Karena itulah Tan Malaka terkucil dari ARUS UTAMA PERGERAKAN NASIONAL. Tan Malaka dinilai sebagai seorang tokoh yang mengundang banyak tanda tanya bagi mereka yang memegang kekuasaan pada waktu itu. Bahkan akhirnya ditangkap karena Tan Malaka memimpin kelompok oposisi bernama Persatuan Perjuangan yang menolak jalur diplomasi pemerintah.
Akibat perbedaan sikap politik yang tajam mengenai cara mempertahankan kemerdekaan itulah, ia dan tokoh oposisi lainnya justru ditangkap oleh pemerintah Republik Indonesia pada Maret 1946. Bersama beberapa tokoh Persatuan Perjuangan, Tan Malaka dipenjarakan oleh Sjahrir.
FAKTOR KEGAGALAN KOLABORASI :
1. Prinsip "Merdeka 100 Persen": Tan Malaka menolak keras segala bentuk perundingan atau kompromi dengan pihak asing (Belanda dan Sekutu).
2. Jalur Diplomasi Pemerintah: Poros utama pimpinan Soekarno-Hatta memilih jalan perundingan (seperti Perjanjian Linggarjati dan Renville), yang dianggap Tan Malaka sebagai bentuk pengkhianatan terhadap kedaulatan rakyat.
3. Pembentukan Persatuan Perjuangan: Tan Malaka mendirikan koalisi oposisi yang menuntut kekuasaan di tangan rakyat, sehingga memicu gesekan politik tajam dengan kabinet yang sedang berkuasa
Semantara itu, di sisi lain meskipun Tan Malaka adalah pionir komunisme di Indonesia dan pernah menjadi bagian dari pimpinan PKI, ia akhirnya berkonflik dengan partai tersebut. Ada beberapa alasan utama yang menyebabkan perpecahan antara Tan Malaka dan PKI, yang sebagian besar terkait dengan perbedaan strategi, ideologi, dan pandangan terhadap perjuangan revolusi di Indonesia.
Menurut Tan Malaka: Revolusi Harus Berbasis Nasionalisme, Bukan Internasionalisme
1. Tan Malaka percaya bahwa perjuangan kemerdekaan Indonesia harus berakar pada nasionalisme dan rakyat Indonesia sendiri, bukan sekadar menjadi bagian dari revolusi komunis internasional yang dipimpin Uni Soviet.
2. Sebaliknya, pemimpin PKI lainnya seperti Alimin dan Musso lebih setia pada Komunis Internasional (Komintern) yang berbasis di Moskow.
3. Tan Malaka tidak ingin Indonesia hanya menjadi boneka Uni Soviet, sementara PKI justru menjalin hubungan erat dengan Moskow.
Karuan saja,Tan Malaka memiliki hubungan yang retak dan penuh konflik dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) karena perbedaan prinsip revolusi, penolakan taktik pemberontakan prematur, serta benturan jalur politik.
Parahnya lagi, perpecahan di tingkat elit politik membuat Tan Malaka dikejar-kejar bukan hanya oleh Belanda tapi juga oleh militer Indonesia yang pro Sjahrir dan Hatta.
Akhirul kalam, Tanggal 21 Februari 1949, Tan Malaka pun lenyap untuk selamanya di kaki gunung Wilis, Kediri. Tan Malaka tewas dalam kesendirian, tanpa nisan, tanpa kuburan yang layak. Tan Malaka, pejuang yang kesepian.
Jika Anda mau, kami bisa:
1. Menjelaskan lebih detail Kekeliruan Pemikiran Tan Malaka.
2. Menguraikan hubungan pemikirannya dengan Marxisme.
Silakan simak juga perbincangan politik ekonomi dan enterpreneur di Website & channel youtube kami:
1. Website : www.skjenius.com.
2. Channel Spiritual Solution : @spiritualsolution7085
3. Channel Cipta Usaha Kreatif : @ciptausahakreatif6628
4. Channel Majelis Dakwah Al-Hikmah: @majelisdakwahal-hikmah4366



