-->
logo

KEMBALI KE AKAR : Pendekatan Sintesis Antara Nilai Tradisi Luhur dengan Modernisasi.

Hot News

Hotline

KEMBALI KE AKAR : Pendekatan Sintesis Antara Nilai Tradisi Luhur dengan Modernisasi.


Jakarta, SKJENIUS.COM. - MIRIIIISSSS....‼️🤭😭 Betapa Tidak. Baru-baru ini, Sebuah surat kabar Belanda, De Volkskrant menurunkan sebuah artikel dengan judul yang memantik kontroversi. Terbit pada 29 Juli 2026, surat kabar itu menulis Indonesië op weg naar bankroet? yang artinya Apakah Indonesia Sedang Menuju Kebangkrutan? sebagai judul laporan mereka. 

Nampaknya judul De Volkskrant itu bukan sekadar dramatisasi belaka, melainkan sebuah analisa tajam yang seharusnya menjadi bahan reflektif bagi pemangku kebijakan dalam negeri. 

Bukankah kita semua merasakan  memang ada beberapa indikasi yang dianggap bahwa ini menuju kebangkrutan. Negara kita mendapatkan kesulitan keuangan, untuk bayar utang. Parahnya lagi carut-marut di arena politik dan makin maraknya korupsi. 

Namun demikian jika kita cermati lebih mendalam, kondisi ketidakpastian ekonomi dan sengkarut politik saat ini bukanlah semata, masalah ekonomi dan politik "an sich". Pasalnya, masalah ekonomi dan politik sering kali hanya menjadi gejala luar atau akibat dari keroposnya nilai-nilai internal manusia. Maka kesemuanya itu berakar dari krisis jati diri. 

Dengan demikian  krisis sosial dan ketidakpastian ekonomi tidak cukup dipandang dari sudut material semata, melainkan bersumber dari hilangnya orientasi nilai dasar, karakter, dan fondasi moral manusia. Kita kehilangan pegangan nilai moral dan etika dasar dalam kehidupan berbangsa. 

Maka dari itu, dalam krisis jatidiri dan disorientasi politik, pilihan terbaik adalah kembali ke akar. Kembali ke akar dan kembali ke jati diri adalah proses pulang pada nilai dasar, asal-usul budaya, serta prinsip hidup yang luhur agar tidak kehilangan arah di tengah perubahan zaman. Konsep ini mencakup pengenalan diri, penghormatan pada kearifan lokal, dan penguatan karakter bangsa. 

Dalam kaitan inilah bangsa Indonesia harus menyadari pentingnya transformasi progresif dan kontekstual, di mana kemajuan tidak harus membuang akar budaya, melainkan menggunakannya sebagai fondasi. Ini adalah pendekatan sintesis antara nilai tradisi yang luhur dengan teknologi dan pola pikir modern. 


Berikut adalah penjabaran makna dari kalimat tersebut: 

1. "Bukan kembali ke masa lalu secara buta": Artinya, kita tidak terjebak dalam romantisme masa lalu atau mengadopsi tradisi lama secara kaku tanpa evaluasi. Tidak semua yang lama itu relevan, dan tidak semua yang baru itu buruk. Perubahan harus dilakukan dengan selektif dan rasional. 

2. "Merajut kearifan masa lalu": Kearifan lokal (seperti gotong royong, adat istiadat, nilai kejujuran, dan penghormatan alam) diambil intisarinya yang bernilai luhur, abadi, dan fungsional. 

3. "Dengan tantangan zaman modern": Nilai-nilai lama tersebut disesuaikan, dikontekstualisasikan, dan diperkaya dengan inovasi, teknologi, dan cara-cara baru agar relevan di era globalisasi. 

CONTOH IMPLEMENTASI: 

1. Ekonomi: Menggunakan platform digital (modern) untuk memasarkan kerajinan lokal (masa lalu). 

2. Pertanian: Menerapkan sistem pertanian organik atau tradisional (kearifan lokal) yang didukung teknologi irigasi modern. 

3. Sosial: Menghidupkan kembali tradisi gotong royong (masa lalu) dalam bentuk kolaborasi berbasis komunitas digital untuk menyelesaikan masalah kontemporer.  

Transformasi ini bertujuan agar bangsa tetap maju secara teknologi dan sosial, namun tetap memiliki jati diri dan kepribadian yang kuat. (az).

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.