Jakarta, SKJENIUS.COM.- NGERIIIIH.....‼️🤭Rupiah Terus Melorot. Rakyat kecil menjerit. Daya Beli Makin Lemah. Padahal cari duit tambah susah. Sementara biaya hidup makin melangit.
Pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh kisaran Rp18.000 per Dolar AS memicu lonjakan biaya produksi bagi industri yang bergantung pada bahan baku impor. Untuk mencegah kerugian, banyak perusahaan terpaksa melakukan efisiensi berupa Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal, sehingga mengancam daya beli masyarakat.
Para ahli ekonomi Islam mengungkapkan, sengkarut ekonomi global menunjukkan kegagalan sistem Kapitalisme menata perekonomian dunia. Alih-alih menciptakan kesejahteraan yang merata, kapitalisme sering kali memicu kesenjangan sistemik dan memperlakukan tenaga kerja sekadar sebagai komoditas untuk menekan biaya produksi.
Hal ini mengakibatkan beberapa dampak struktural:
1. Akumulasi Kekayaan: Keuntungan cenderung terkonsentrasi pada segelintir pemilik modal.
2. Kemiskinan Struktural: Sistem pasar bebas sering mengabaikan keadilan sosial demi mengejar profit semata.
3. Kerentanan Pekerja: Fokus pada efisiensi sering berujung pada penekanan upah, peningkatan beban kerja, dan minimnya jaminan kerja bagi kaum buruh.
Kritik mendasar ini menyoroti bahwa tanpa regulasi yang kuat, mekanisme pasar bebas dapat memperlebar jurang pemisah antara kelas pekerja dan kaum borjuis.
Maka sudah saatnya kita kembali ke Jati Diri bangsa, yakni kembali ke Sistem Ekonomi Pancasila. Kembali mengembangkan Ekonomi Pancasila berarti mengimplementasikan sistem "jalan tengah" yang menolak kapitalisme ekstrem dan sosialisme.
Sistem ini berakar pada gotong royong, berasaskan kekeluargaan, dan menjadikan kesejahteraan merata bagi seluruh rakyat—terutama melalui pemberdayaan UMKM dan koperasi—sebagai tujuan utamanya.
Kembali ke Ekonomi Pancasila berarti membangun sistem perekonomian yang berkeadilan, menolak monopoli, dan mengutamakan gotong royong. Sistem ini menjadikan kesejahteraan bersama sebagai prioritas utama, selaras dengan cita-cita kemerdekaan bangsa Indonesia.
Prinsip dasar yang menjadi jati diri bangsa dalam sistem Ekonomi Pancasila meliputi:
1. Pilar Kerakyatan: Koperasi didorong sebagai sokoguru perekonomian.
2. Peran Negara: Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara.
3. Keadilan Sosial: Menekankan pertumbuhan ekonomi yang inklusif, di mana kekayaan bangsa harus dinikmati secara adil, mencegah praktik monopoli, dan memastikan yang kuat tidak mematikan yang lemah.
4. Asas Kekeluargaan: Roda perekonomian dijalankan sebagai usaha bersama yang inklusif, di mana koperasi dan UMKM menjadi pilar utama penggerak ekonomi kerakyatan.
5. Etika dan Moral: Kegiatan ekonomi tidak hanya didorong oleh keuntungan materi, tetapi juga diimbangi dengan nilai-nilai moral, sosial, dan agama.
6. Ekonomi yang Humanis: Menghindari sistem pasar bebas murni yang eksploitatif dan memicu jurang pemisah antarkelompok.
7. Keseimbangan Peran Seluruh Stakeholders : Sistem ini menuntut keseimbangan antara peran pemerintah, swasta, dan masyarakat agar pertumbuhan ekonomi tetap berjalan seiring dengan pemerataan hasil pembangunan.
Jika Anda membutuhkan penguatan di tengah pergumulan Anda dengan karir dan kesulitan ekonomi? Bacalah solusinya di Website kami ; www.skjenius.com.
Silakan simak juga perbincangan ekonomi, keuangan, enterpreneur dan kesehatan di channel youtube kami:
1. Channel Spiritual Solution : @spiritualsolution7085
2. Channel Cipta Usaha Kreatif : @ciptausahakreatif6628
3. Channel Majelis Dakwah Al-Hikmah: @majelisdakwahal-hikmah4366



