Kamang Mudiak, SKJENIUS.COM.- Belakangan ini kita menyaksikan Fenomena kekaguman pada Tan Malaka yang berakar dari statusnya sebagai "Bapak Republik Indonesia", berani melawan arus. Pesonanya tumbuh subur di kalangan generasi muda karena kisah hidupnya yang misterius sebagai buronan, pemikirannya yang visioner mendahului zaman, serta posisinya sebagai tokoh besar yang sempat terpinggirkan oleh sejarah Orde Baru.
Namun demikian dibalik, daya tarik dan akar fenomena ini, Gagasan Tan Malaka—seperti konsep Madilog (Materialisme, Dialektika, dan Logika) atau politik sayap kirinya—perlu dikoreksi dan dikontekstualisasikan ulang karena dicetuskan pada era kolonial.
Pemikirannya bersifat dinamis dan terbuka terhadap perubahan zaman. Koreksi ini diperlukan agar gagasannya tetap relevan dengan dinamika politik, ekonomi, dan sosial masyarakat modern.
Beberapa gagasan besar Tan Malaka yang sangat perlu dikoreksi meliputi:
1. Pereduksian Agama dan Wahyu
2. Melupakan Jati Diri Nusantara.
Dalam karya monumentalnya, Madilog (Materialisme, Dialektika, dan Logika), Tan Malaka menawarkan cara berpikir yang sangat mengagungkan rasionalitas dan ilmu pengetahuan dengan menyingkirkan dogma atau hal-hal yang tidak bisa dibuktikan secara logis. Hal ini sering kali berseberangan dengan nilai-nilai spiritual dan religius yang dianut oleh sebagian besar masyarakat Indonesia.
Makanya, benturan besar antara rasionalitas murni ala Madilog dengan akar spiritualitas masyarakat kita memang menjadi dinamika yang menarik sejak dulu.
Oleh karena itu, dalam meneladani pemikirannya mengharuskan kita untuk menyaring ide-idenya, mengakui bias ideologinya, dan tidak menerimanya secara mentah-mentah.
Mengikuti Pemikiran Tan Malaka tanpa panduan filosofi yang benar bisa membuka jalan Anti-spiritualitas, yakni penolakan terhadap kepercayaan supranatural, dogma agama, atau praktik metafisik.
Makanya, disadari atau tidak, pengikut Tan Malaka mulai terasing dari kekuatan spiritual, gotong royong, dan filosofi leluhur akibat derasnya pengaruh materialisme dan sekularisme.
Untuk menggali kembali kekuatan spiritual tersebut, maka nilai-nilai yang perlu dihidupkan kembali meliputi:
1. Kekuatan Spiritual dan Batin: Mengembangkan kesadaran diri melalui olah rasa, zikir, dan ketenangan yang diwariskan oleh tradisi Islam di Nusantara.
2. Manunggaling Kawula Gusti: Konsep kesadaran bahwa manusia dan alam semesta adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan dengan Sang Pencipta.
3. Gotong Royong dan Welas Asih: Mengutamakan kebersamaan dan keseimbangan sosial dan cinta kasih sebagai bentuk nyata laku spiritual sehari-hari.
4. Kearifan Lokal: Menghubungkan kembali manusia dengan alam dan nilai-nilai luhur ketuhanan yang menjadi dasar kehidupan masyarakat adat.
5. Menghormati Alam: Menjaga kelestarian lingkungan dan melihat alam sebagai bagian dari kehidupan spiritual itu sendiri.
6. Pancasila sebagai Jalan Spiritual: Memaknai sila-sila Pancasila bukan hanya sebagai ideologi negara, tetapi sebagai intisari kesadaran luhur masyarakat Nusantara.
Yuk.....Kita kembali ke jati diri spiritual Nusantara dengan merangkul kearifan lokal yang mengutamakan keselarasan hidup (manusia dengan Allah, sesama manusia, dan alam semesta). Fondasi ini memadukan nilai-nilai leluhur asli dengan nilai-nilai filosofis modern.
Selanjutnya silakan Anda membaca berita dan artikel Problem Solving dan berbagai Ilmu Pengetahuan tentang Ekomi, Bisnis dan Keuangan dalam Perspektif Spiritual:
1. Channel Youtube Spiritual Solution : @spiritualsolution7085
2. Channel Youtube Cipta Usaha Kreatif:
@ciptausahakreatif6628
3. Website Surat Kabar Jenius Online: www.skjenius.com
Contact Person: 081517291475 (Kyai Ageng Khalifatullah).



