Pernyataan Beliau ini berdasarkan Kekuatan Bahasa dan Jumlah Populasi Kaum MELAYU. Bahasa Melayu (termasuk variannya seperti Bahasa Indonesia) menjadi lingua franca utama dan sarana dakwah penting bagi lebih dari 240 juta umat Islam di Indonesia, Malaysia, Brunei, dan Singapura.
Pernyataan KHAMZ Tuanku Kayo Khalifatullah dari Minangkabau ini akhirnya dijadikan Satu Topik Diskusi Tentang Teori Kebangkitan Suatu Kaum, Bangsa dan Umat Islam.
Teori kebangkitan umat Islam (Islamic resurgence) berakar pada pandangan sejarah yang mengaitkan kejayaan masa lalu dengan perlunya pembaruan spiritual, intelektual, dan struktural. Kebangkitan ini dicapai melalui pemurnian tauhid, penguasaan ilmu pengetahuan, kesatuan umat, dan penegakan akhlak mulia sebagai rahmatan lil ‘alamin.
Dalam diskursus sejarah dan sosiologi Islam, terdapat berbagai teori dan pilar utama yang menjadi motor penggerak kebangkitan suatu kaum dan bangsa, antara lain:
1. Teori Siklus Peradaban (Ibnu Khaldun) : Dalam kitab Muqaddimah, Ibnu Khaldun menjelaskan teori kebangkitan dan keruntuhan bangsa melalui konsep Ashabiyah (solidaritas sosial atau ikatan golongan).8
2. Teori Pembaruan & Tajdid (Tokoh Modernis) : Para reformis seperti Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh, dan Rasyid Ridha mencetuskan teori kebangkitan melalui gerakan Islah (pembaruan).
3. Teori Intelektualisme & Tradisi Keilmuan : Banyak cendekiawan berpendapat bahwa kebangkitan peradaban Islam selalu ditandai oleh bangkitnya tradisi literasi dan ilmu. Pada masa keemasannya, Islam menjadi pusat ilmu pengetahuan dunia karena institusi seperti Baitul Hikmah di Baghdad.
4. Teori Teosentris (Sunnatullah) : Dari perspektif teologis, Al-Qur'an (seperti dalam surat Ar-Ra'd ayat 11) menetapkan bahwa Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sampai kaum tersebut mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.
5. Teori Kekuatan Spiritual sebagai Core of The Core Perubahan : Kekuatan spiritual adalah energi batin yang mendorong seseorang untuk hidup selaras dengan nilai-nilai kebenaran.
Sebagai inti dari inti (core of the core) kebangkitan umat, fondasi ini memicu transformasi kesadaran dari individualisme menuju solidaritas, membentuk ketahanan dalam menghadapi krisis, dan menggerakkan individu untuk membawa dampak positif tanpa pamrih.
Berdasarkan ke 5 teori dan pilar utama yang menjadi motor penggerak kebangkitan suatu kaum dan bangsa tersebut, KGPH Eko Gunarto Putro Sulthan Abdul Jalil Khalifatullah sebagai Pemangku Sulthan (Pelestarian) Kesultanan Jepara menyimpulkan, "Takkan Bangkit Muslim di Bumi, jika Kaum Melayu Tak Bangkit. Takkan Bangkit Melayu, Jika Indonesia tak Bangkit. Tak kan Bangkit Indonesia Jika Minangkabau tak Bangkit.
Pasalnya, berdasarkan penelitian Cendekiawan Muslim Nurcholish Madjid, Orang Minangkabau adalah Kontributor Utama Gagasan Keindonesiaan. Cak Nur pernah meneliti bahwa hampir 60% dari tokoh penting yang terlibat dalam pergerakan nasional awal berasal dari etnis Minang.
Mereka adalah arsitek pemikiran seperti Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, Tan Malaka, Agus Salim, dan Mohammad Natsir, Syaikh Inyiak Cubadak dan lainnya.
"Orang Minangkabau Memiliki Tradisi Intelektual yang Kuat: Wilayah ini terus melahirkan cendekiawan muslim dan pemikir yang mengawinkan Islam dengan kemajuan modern," pungkas Sulthan Jepara itu. (az)



