Cikarang, SKJENIUS.COM.- Dalam setiap langkah kehidupan, baik di rumah, di tempat kerja, maupun dalam interaksi sosial sehari-hari, masalah tidak bisa dihindari. Kita bisa merencanakan sesuatu dengan detail, menyusunnya dengan penuh perhitungan, namun jangan kaget, jika selalu ada hal-hal di luar kendali yang membuat rencana itu tidak berjalan mulus.
Karena itu Nenek Moyang kita menyebutkan, "Hidup adalah seperti berlayar di lautan luas. Terkadang kita menemui badai yang mengguncang perahu kehidupan kita, namun kadang juga kita menikmati keindahan matahari terbenam di ufuk timur."
Maka dari itu Pepatah Minang mengingatkan: "Bilo lauik dijadikan biduak, bilo inyo ka karam" (Jika Laut Dijadikan Biduk Tentu Dia Tak akan Karam)
Pepatah ini merupakan bentuk kiasan yang mengajarkan kita untuk menghadapi segala rintangan atau masalah dengan persiapan dan peralatan yang tepat.
Karena itu ditegaskan dalam Pepatah yang lain "Bilo lauik jadikan kapa, tantu indak karam di tangah." (Bila laut jadikan kapal, tentu tidak karam di tengah).
Ini adalah kearifan lokal Minangkabau yang merupakan pedoman dalam menghadapi problem hidup, yakni: selalu beradaptasi dengan situasi atau tantangan apa pun yang dihadapi agar kita tidak hancur atau gagal dalam prosesnya.
Pepatah ini selanjutnya dikuatkan dengan ungkapan atau metafora dalam bahasa Minangkabau, "Kalau lauik jadikan kapa, tantu indak karam dek gelombang."
Secara harfiah, artinya adalah: "Jika lautan dijadikan kapal, tentu tidak akan karam (tenggelam) dihantam gelombang."
Secara filosofis, pepatah ini bermakna:
1. Kekuatan dan Ketahanan Mental: Seseorang yang menjadikan masalah atau cobaan (seperti gelombang) sebagai bagian dari proses pendewasaan (kapal) tidak akan mudah hancur atau menyerah.
2. Kebijaksanaan: Lautan adalah sesuatu yang sangat luas dan dalam. Menjadikan laut sebagai kapal menyimbolkan kemampuan seseorang untuk merangkul dan mengelola masalah yang besar dengan kecerdasan dan persiapan yang matang.
3. Tidak Ada yang Mustahil: Dengan persiapan, ilmu, dan usaha yang tepat, rintangan sebesar apa pun bisa dihadapi tanpa mengalami kehancuran.
Secara filosofis, jika laut "menjadi" kapal, maknanya adalah lautan yang luas bertransformasi menjadi sarana mobilitas atau pelayaran itu sendiri.
Maka ditegaskan hal tersebut dalam Ungkapan, "Kalau laut dijadikan kapal. Pantang pantang surut menolak ombak."
Ungkapan ini sarat akan semangat juang nenek moyang kita, orang Nusantara. Frasa ini merupakan bentuk variasi puitis dari peribahasa klasik Bugis: "Sekali layar terkembang, pantang surut kita berpantang" atau "Sekali layar terkembang, pantang surut ke belakang".
Secara filosofis, ungkapan ini bermakna:
1. Keteguhan Tekad: Sekali keputusan telah diambil atau perjalanan telah dimulai, tidak ada kata mundur.
2. Keberanian Menghadapi Masalah: Sebesar apa pun badai dan ombak (tantangan) yang datang, ia tidak akan dihindari melainkan dihadapi.
3. Mental Pelaut Tangguh: Mengingatkan bahwa pelaut yang hebat tidak dibentuk oleh laut yang tenang, melainkan oleh hempasan ombak yang menerjang. Maka sekali layar terkembang, pantang biduk surut ke pantai.
Apakah Anda sedang mencari kutipan sastra atau peribahasa Minangkabau dan Bugis lainnya untuk konteks tertentu? Kami bisa membantu mencarikannya! Wassalam! (az)



