Carut-marut perekonomian dunia, bukanlah semata masalah teknis ekonomi, faktor geopolitik, kebijakan strategis, maupun perubahan lingkungan/Climate change. Namun ancaman krisis global, kesenjangan sosial yang ekstrem serta kerusakan alam dan lingkungan hidup yang terjadi di berbagai belahan bumi adalah bukti nyata KEGAGALAN Sistem Kapitalisme dalam menata perekonomian dunia.
Maka, Bulan Suci Ramadhan ini adalah momentum bagi kita untuk keluar dari jeratan kapitalisme. Sudah terlalu lama kita berada dalam cengkeraman sistem yang meninggalkan spiritualitas dalam berekonomi. Sehingga hari ini pemerintah kita terjerat utang riba menembus angka Rp9.637,90 triliun per 31 Desember 2025.
Yuk.......! Kita Tinggalkan sistem ekonomi yang berbasis Utang Ribawi yang menghisap darah rakyat, kita Hijrah ke Sistem Ekonomi yang Berlandaskan Spiritualitas Nusantara. Sistem yang lebih cocok dengan Jati Diri Kita Sebagai Pewaris Nusantara.
Sistem ekonomi berbasis spiritual Nusantara adalah paradigma ekonomi yang mengintegrasikan nilai-nilai luhur budaya lokal, gotong royong, dan prinsip spiritual (seperti ikhlas, amanah, dan berkah) dengan aktivitas bisnis. Sistem ini mengutamakan keberlanjutan, kesejahteraan bersama, dan keadilan sosial di atas keuntungan materi semata.
Konsep ini mengacu pada upaya untuk menjadikan pekerja sebagai subjek spiritualitas yang lebih saleh dan subjek ekonomi yang lebih produktif sekaligus. Ekonomi spiritual merupakan titik pertemuan antara kebangkitan Spiritual Nusantara dengan globalisasi ekonomi.
Kedua hal ini, meskipun menjadi fokus perhatian para antropolog maupun sarjana dalam beberapa tahun terakhir, namun sebagian besar masih belum melihat hubungan diantara keduanya.
Dalam ekonomi spiritual, praktik keagamaan dianggap dapat mendukung globalisasi. Memang, seringkali agama dan globalisasi dilihat sebagai dua hal yang kontradiktif. Kebangkitan spiritual dicitrakan sebagai sarana atau alat perlawanan terhadap globalisasi ekonomi kapitalis.
Berikut ini KARAKTERISTIK UTAMA Sistem Ekonomi yang Berlandaskan Spiritualitas Nusantara:
1. Berpikir Kolektif untuk Kemajuan Bersama: Berpikir kolektif adalah sinergi pengetahuan, keahlian, dan perspektif beragam anggota kelompok untuk mengambil keputusan lebih tepat, efisien, dan inovatif. Pendekatan ini mengatasi kompleksitas dengan menyatukan visi, berbagi tanggung jawab, serta membangun kesadaran bersama, yang memicu kemajuan signifikan dan inovasi melalui kecerdasan kolaboratif.
2. Berbasis Komunitas & Gotong Royong: Usaha tumbuh dalam jaringan sosial seperti koperasi, pesantren, atau UMKM kekeluargaan.
3. Etika Spiritual: Menjadikan pekerjaan sebagai ibadah atau pengabdian, menekankan kejujuran (amanah) dan menghindari praktik riba/eksploitasi.
4. Berkah sebagai Tujuan: Fokus pada keberkahan usaha yang memberikan manfaat (maslahat) bagi lingkungan sekitar.
5. Eko-spiritual: Menghormati alam sebagai titipan Tuhan yang dikelola secara berkelanjutan.
CONTOH IMPLEMENTASI :
1. Ekonomi Pesantren: Pada Umumnya Pesantren menggunakan prinsip ikhlas dan khidmah (pengabdian) dalam membangun kemandirian ekonomi umat.
2. PT. Samudera Biru Line: Perusahaan Forwarding ini mengintegrasikan nilai-nilai spiritualitas, etika, dan prinsip agama ke dalam operasional bisnis, bukan sekadar mencari profit. Fokus utamanya mencakup pelayanan, integritas, dan pengembangan SDM untuk keberkahan dunia-akhirat.
3. UMKM Berbasis Kekeluargaan: Pelibatan masyarakat/tetangga sebagai mitra produksi, bukan sekadar tenaga kerja kaku, menciptakan ikatan percaya.
4. Wisata Religi: Sinergi antara ziarah (spiritual) dan penggerak ekonomi lokal.
5. Wakaf Produktif: Pengelolaan wakaf untuk menciptakan lapangan kerja dan fasilitas sosial.
Sistem ini sejalan dengan nilai-nilai Pancasila, yang menekankan Keadilan Sosial dan Keilahiyan (divinity) dalam ekonomi.(az)



