Miris....... ! Memang. Di tengah ekonomi sedang suram dan daya beli rakyat kecil lagi merosot, justru biaya berobat selangit. Padahal, jika sakit mau tidak mau masyarakat harus periksa ke Rumah Sakit dan konsumsi obat yang diresepkan dokter.
Di tengah masyarakat, pengetahuan dokter, keterampilan klinis, dan penilaian merupakan pendorong utama untuk keputusan perawatan, penilaian terapi, dan kemajuan medis, dengan penekanan pada perlindungan dan pemulihan kesejahteraan manusia.
Apalagi munculnya pengobatan berbasis bukti (EBM) dan meningkatnya penggunaan teknologi inovatif tidak diragukan lagi telah meningkatkan praktik kedokteran, ketergantungan dan penerapan yang berlebihan terhadap hal-hal ini berisiko membayangi aspek manusia dalam penilaian klinis dan pengambilan keputusan.
Pasalnya saat ini masyarakat sedang menghadapi kondisi ekonomi yang sulit, namun harga obat melangit. Karena itulah ketergantungan manusia kepada dokter dan obat medis dalam perawatan kesehatan perlu diatasi. Alternatifnya adalah meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang perawatan kesehatan, obat herbal dan pengobatan tradisional Nusantara.
Dalam kehidupan peran dokter sangat berarti, mulai dari manusia baru lahir sampai orang-orang lansia masih membutuhkan kehadiran seorang dokter atau lebih untuk meringankan sakit. Dokter pun kerap dianggap sebagai sosok yang paling bisa membantu setiap manusia jadi lebih baik dan tetap sehat.
Nah, sehubungan dengan hal tersebut di atas, mungkin Anda pernah mendengar istilah 'Kita Adalah Dokter Terbaik bagi Diri Sendiri'. Sobat saya, yang pernah menjadi Dekan Farmakologi UI, Allahyarham Prof. DR. H. Sardjono O. Santoso, D.S.F.K, sering mengingatkan istilah itu dalam setiap ceramah di Pengajian Tawakal. DR. Sardjono mengingatkan pentingnya istilah itu dihayati sehingga semua orang bisa lebih meningkatkan kesehatannya.
Dengan menyadari kondisi tubuh masing-masing, DR. Sardjono mengatakan akan sangat mudah bagi kita untuk menghindari obat dari dokter. “Misalnya, Anda terbiasa makan sate kambing, tapi Anda menderita tekanan darah tinggi, asam urat tinggi. Dengan menjadi dokter Anda bisa menghindari makan sate kambing daripada harus berobat ke dokter ketika sudah timbul sakit," katanya.
Jadi, dokter yang paling hebat itu memang dokter diri kita sendiri. Maka, jangan sedikit-sedikit harus ke dokter, apalagi mengingat ongkos berobat ke dokter sangat mahal. Selama tidak ada komplikasi atau riwayat penyakit serius, banyak yang bisa dilakukan untuk mempercepat kesembuhan diri. “If you are not your own doctor you are a fool,” tandas Hippocrates.
Sesungguhnya saya kurang cocok Dengan kata-kata kasar, Hippocrates, karena itulah Saya tidak suka menyebut orang bodoh, tetapi saya pasti percaya menjadi dokter diri sendiri. Saya pikir terlalu banyak orang yang mendelegasikan hak istimewa ini kepada seseorang di luar dirinya, yang pada umumnya berakhir menjadi seorang profesional berjaket putih yang disebut dokter.
Hal itu membuat saya berpikir saat saya mendengar seseorang berkata, "Percayalah pada dirimu sendiri dan pertanyakan segalanya." Saya menyukai kesederhanaan & kedalamannya jadi saya segera mengetiknya ke dalam catatan di ponsel saya.
Pola pikir mempercayai diri sendiri dan mempertanyakan segala sesuatu adalah inti dari menjadi dokter diri sendiri, yang dapat kita terapkan tidak hanya pada kesehatan kita, tetapi hampir di setiap bidang kehidupan. Intinya adalah mempercayai intuisi atau "firasat" kita di atas segalanya. (az)



