Mungkin belum banyak diantara kita yang MENYADARI bahwa KRISIS BUDAYA adalah Penyebab Timbulnya Masalah Multidimensional Bangsa Indonesia sampai hari ini. Warga Negara Indinesia yang Mayoritas adalah para Pewaris Nusantara, nampaknya GAGAL dalam memahami KESADARAN hidup (consciousness) orang Nusantara dan Kekuatan Spiritual serta Kearifan Lokal warisan nenek moyangnya.
Akibatnya, berbagai MASALAH terus mendera bangsa kita, entah kapan akan surut, mulai dari masalah kemiskinan, PENGANGGURAN pendidikan, politik, dan ekonomi. Semua persoalan menghujam seolah hujan tak akan pernah reda, dengan kondisi seperti ini maka dikhawatir ungkapan “gemah ripah loh jinawi, toto tenterem kerto raharjo, sulit diwujudkan di Persada Ibu Pertiwi ini.
Ungkapan dan semboyan-semboyan kebanganggan yang dahulu sering keluar dari mulut untuk memuji kekayaan sumberdaya alam dan manusia di Indonesia, kini tak lagi bermakna karena sampai bulan Maret 2018, jumlah penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan) di Indonesia mencapai 25,95 juta orang (9,82 persen).
Jadi, bagaimana kita tak akan RISAU dan Prihatin melihat keadaan masyarakat Indonesia sekarang lebih memuliakan materi dan meremehkan semua yang bersifat sosial dan spiritual. Sebagai bangsa yang kuat seharusnya dengan segera kita menyadari kondisi kriris budaya ini, kemudian bertindak dengan mengembalikan budaya bangsa yang masih relevan dengan mengaplikasikannya pada kehidupan berbangsa dan bernegara.
Tanpa pembangunan kebudayaan, baik itu kesenian, sastra, tradisi lokal ataupun pemikiran budaya, sebuah bangsa akan kehilangan spirit dan ruh kehidupan masyarakatnya. Karena itulah perlu kita SADARI bersama bahwa peran budaya dalam membangun bangsa sangat mendasar karena menyangkut nilai-nilai kehidupan yang melandasi sebuah tatanan kehidupan masyarakat.
Kemajuan Prancis, Jepang dan Korea Selatan adalah sebuah contoh nyata bagaimana kebudayaan mereka berhasil dikapitalisasi menjadi produk-produk industri kreatif. Hal ini hanya dimungkinkan jika nilai-nilai budaya mereka telah mengakar kuat sebagai sendi kehidupan masyarakat. Artinya, rakyat Korea adalah masyarakat yang menjadikan tradisi dan budaya mereka sebagai landasan dalam setiap sendi kehidupan. Demikian juga rakyat Prancis dan Jepang.
Dalam Budaya Nusantara, Nenek Moyang kita percaya bahwa Allah adalah pusat alam semesta dan pusat segala kehidupan karena sebelum semuanya terjadi di dunia ini Allah-lah yang pertama kali ada. Allah tidak hanya menciptakan alam semesta beserta isinya tetapi juga bertindak sebagai pengatur, karena segala sesuatunya bergerak menurut rencana dan atas ijin serta kehendak (IRADAT)-Nya.
Jadi, PUSAT yang dimaksud dalam pengertian ini adalah SUMBER yang dapat memberikan penghidupan, keseimbangan dan kestabilan, yang dapat juga memberi kehidupan dan penghubung individu dengan dunia LANGIT.
Pandangan orang Nusantara yang demikian biasa disebut Manunggaling Kawula Lan Gusti, yaitu pandangan yang beranggapan bahwa kewajiban moral manusia adalah mencapai HARMONISASI dengan kekuatan terakhir dan pada kesatuan terakhir, yaitu manusia menyerahkan dirinya selaku KAWULA terhadap GUSTI-NYA. Sehingga mereka berupaya hidup dan BERGERAK SELARAS dengan Kehendak (IRADAT) dan KUASA (Qudrat) Allah dalam setiap langkah dan Amal Shalehnya. (az)



