Peeriiiiihhh.......! Betapa tidak. Isu mengenai kaum Muslim terpinggirkan, khususnya di Indonesia, merupakan narasi yang kompleks dan sering diperdebatkan sampai hari ini. Meskipun merupakan mayoritas secara populasi (sekitar 87,13%, per semester I 2025), terdapat kekhawatiran mengenai ketimpangan ekonomi dan sosial-politik yang dialami oleh sebagian umat.
Parahnya lagi, mayoritas orang miskin, pengangguran, anak jalanan, dan orang tidak bisa sekolah adalah umat Islam. Sementara itu, sebagian besar aset sumber daya alam dikuasai oligarki, para cukong konglomerat yang nonis.
Menurut para cendekiawan, ketertinggalan sebagian umat Islam di Indonesia (dan dunia) umumnya disebabkan oleh kombinasi rendahnya penguasaan iptek, lemahnya ekonomi, perpecahan internal, dan pendidikan yang cenderung berfokus pada ukhrawi saja.
Namun sebagai seorang Spiritual Business Consultant, saya berpendapat, ketertinggalan sebagian Umat Islam adalah sebuah indikator lemahnya iman di antara mereka. Pasalnya Kekuatan Iman merupakan faktor penentu kemajuan yang mendasar, baik dalam skala individu maupun peradaban, karena iman berfungsi sebagai energi penggerak (motivator), landasan moral, dan rasionalitas yang melampaui sekadar materi.
Iman digambarkan dalam Al-Qur'an (QS. Ibrahim: 24-25) sebagai pohon yang baik, dengan akar (akidah/rukun iman) yang kokoh menghujam di hati, batang yang tegar, dan cabang-cabang (amal shalih) yang menjulang ke langit, membuahkan kebaikan, manfaat, serta kebahagiaan di dunia dan akhirat secara terus-menerus.
Namun saat musim gugur tiba, seluruh daun-daun rontok dari tangkainya, supaya saat musim semi tiba Kelihatan lebih indah...!
Yang lalu biarlah berlalu. Yuk....Kita Jemput Masa Depan yang Indah. Maka Biarlah 10 Daun Berguguran Daripada Satu Pohon Tumbang.
Mumpung masih berada dalam Bulan Suci Ramadhan yang Berlimpah Berkah dan Ampunan, mari Mari Kita Kuatkan Iman untuk Melawan Godaan Zaman. Ramadhan adalah momen emas dalam Islam yang dirancang sebagai sarana untuk meningkatkan kualitas iman, ketakwaan, dan spiritualitas umat Muslim.
Bulan ini bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan sebuah madrasah (sekolah) untuk mendisiplinkan diri, menyucikan jiwa, dan memperkuat iman kepada Allah SWT.
Iman bukan sekadar kepercayaan pasif, melainkan kekuatan aktif yang mendorong produktivitas, ketahanan (resiliensi) dalam menghadapi kegagalan, dan integritas dalam bekerja.
Berikut adalah PERAN KEKUATAN IMAN sebagai faktor PENENTU KEMAJUAN:
1. Pendorong Produktivitas dan Etos Kerja Tinggi: Iman yang kuat memberikan tujuan hidup yang jelas, yang diterjemahkan ke dalam semangat kerja keras, kejujuran, dan profesionalisme (integritas).
2. Landasan Moral dan Etika Peradaban: Kemajuan tanpa iman cenderung menyebabkan krisis moral, seperti kejahatan, korupsi, dan runtuhnya nilai keluarga.
3. Resiliensi dalam Menghadapi Ujian: Iman memberikan kekuatan batin dan ketenangan (terapi mental) untuk bangkit dari kegagalan. Ini menciptakan ketahanan mental yang diperlukan dalam inovasi dan usaha, di mana kegagalan dianggap sebagai pelajaran, bukan akhir dari usaha.
4. Inspirasi dan Kreativitas: Keyakinan kepada Allah mendorong manusia untuk memaksimalkan potensi akal dan kemampuannya, serta berani mengambil risiko yang terukur untuk mencapai kemajuan.
5. Rasionalitas dan Keseimbangan: Iman yang benar mengajarkan keseimbangan antara rasionalitas (ilmu pengetahuan) dan spiritualitas, yang merupakan kunci kemajuan dan kesejahteraan yang sejati.
Dengan demikian, Iman berperan sebagai energi utama (Elan Vital) yang menggerakkan peradaban menuju kemenangan dan kemajuan yang tidak hanya material, tetapi juga spiritual.(az)



