Miris! Hari ini kita menyaksikan fenomena Komersialisasi Laku Spiritual Nusantara oleh kapitalis. Mereka mengubah praktik, simbol, dan pengalaman spiritual menjadi komoditas yang diperdagangkan di pasar untuk mencari keuntungan finansial.
Fenomena ini muncul dari interaksi antara keyakinan pribadi yang mendalam dan sistem ekonomi yang didominasi oleh MOTIF LABA.
Berbagai Produk dan Layanan Spiritual ditawarkan dalam bentuk retret, yoga mewah, sesi meditasi berbayar, dan konsultasi spiritual pribadi dengan biaya yang signifikan.
KAPITALISME mengambil nilai budaya yang kaya dan mendalam, mengupas konteks aslinya, dan MENJUAL kembali sebagai solusi instan untuk masalah yang mungkin diciptakan oleh sistem itu sendiri
Proses KOMERSIALISASI dan TRANSFORMASI menjadi konsep Barat umumnya terjadi melalui beberapa cara:
1. Terminologi Ulang (Reframing): Filosofi asli yang berakar pada budaya Nusantara dan spiritualitas Islam lokal (Pasrah Diri/Nrimo ing Pandum) diistilahkan ulang menggunakan bahasa Inggris yang lebih universal dan menarik secara komersial, seperti "self-acceptance" atau "The Power of Surrender".
2. Aplikasi Psikologis Modern: Konsep ini diintegrasikan ke dalam pendekatan psikologi modern, seperti konseling realitas atau terapi perilaku kognitif, dan dipasarkan sebagai metode ilmiah untuk mengatasi stres, depresi, atau kecemasan di era modern.
Karuan saja The Power of Surrender: “Finding Success in Surrender!” menjadi kalimat yang sedang POPULER dan menjadi bahan perbincangan menarik di tengah masyarakat Amerika dan Eropa.
Workshop "The Power of Surrender" pun menjadi populer dan laku keras serta diminati oleh berbagai kalangan. Terutama kaum modern di Timur dan Barat yang mengalami KEGERSANGAN SPIRITUAL.
Seiring dengan itu, buku-buku yang Membahas “The Power of Surender”, jadi Best Seller setiap kali diterbitkan. Nampaknya, semakin Banyak orang Amerika dan Eropa yang berusaha dan BERHARAP menemukan KEKUATAN, KEBAHAGIAAN dan KESEJAHTERAAN dalam BERSERAH diri.
Namun parahnya Produk dan Layanan Spiritual yang dilabeli “The Power of Surender” itu telah kehilangan Autentisitas.
Bahkan proses ini dapat mengikis makna dan kedalaman asli dari praktik spiritual. Ketika SPIRITUALITAS menjadi "PRODUK" yang dikonsumsi, fokusnya bisa bergeser dari pertumbuhan internal yang TULUS ke kepuasan INSTAN dan MATERIALISME.
Berbeda dengan laku spiritual tradisional yang sering kali berakar pada komunitas, tradisi, atau keyakinan bersama, komersialisasi didorong oleh permintaan pasar dan potensi keuntungan. Pemasar sering memanfaatkan keinginan individu akan kedamaian batin, kesehatan, atau makna hidup untuk menjual PRODUK dan LAYANAN ini.
Padahal dalam Budaya Nusantara yang berazaskan Nilai-nilai Spiritual, PASRAH DIRI adalah suatu Konsepsi Hidup yang Luhur.
Sudah sejak masa lampau Nenek Moyang kita telah mengajarkan konsep “Nrimo ing Pandum”. Nrimo artinya menerima, sedangkan Pandum artinya pemberian. Jadi, Nrimo ing Pandum memiliki arti menerima segala pemberian apa adanya dari Yang Maha Kuasa tanpa menuntut yang lebih dari itu.
Jadi, BERSERAH DIRI adalah INTI dari semua jalan SPIRITUAL; tidak ada praktik yang lebih kuat atau lebih dalam daripada menyerah.
Selamat Berserah Diri Pada Allah SWT. Semoga sehat dan sukses selalu Saudaraku.(az)🙏❤🇲🇨



