-->
logo

Pengobatan Tradisional Minangkabau Di Surau Suluak Inyiak Cubadak

Hot News

Hotline

Pengobatan Tradisional Minangkabau Di Surau Suluak Inyiak Cubadak


Kamang Mudiak, SKJENIUS.COM,- Dalam perspektif Pengobatan Tradisional Minangkabau, penyebab seseorang menjadi sakit dapat disebabkan oleh faktor personalistik (makhluk halus) dan faktor naturalistik (fisikal). Sakit atau penyakit yang disebabkan oleh faktor personalistik akan berbeda 
pengobatannya dengan yang disebabkan oleh faktor naturalistik.  Jika yang pertama diobati dengan kekuatan gaib (manto/mantra, doa atau gabungan mantra dan ramuan), maka yang kedua pengobatannya akan menggunakan ramuan dari bahan-bahan tumbuhan (herbalmedicine) dan hewan (animalmedicine) atau gabungan keduanya. 

Demikian diungkapkan oleh Sekretaris Surau Suluak Inyiak Cubadak, Zulmahdi, S.Pd.I, Tuangku Radjo Ameh kepada wartawan seputar Metode Pengobatan Tradisional Minangkabau yang dikembangkan di Surau Suluak itu. "Dalam masyarakat Minangkabau, khususnya pengamal Thariqat Naqsyabandiyah, pengetahuan tentang pengobatan tradisional kebanyakan terekam dalam ingatan lisan masyarakatnya," imbuhnya. Dalam konteks ini, Surau Suluak Inyiak Cubadak berupaya mengumpulkan dan mengkaji berbagai ramuan pengobatan warisan nenek moyang dan para Guru Mursyid, terutama Ilmu Pengobatan Inyiak Cubadak. Kajian itu menghasilkan tentang berbagai ramuan obat. Mulai dari obat penambah nafsu makan sampai penambah tenaga batin, pengaruh faktor kepercayaan atau sugesti akan khasiat SITAWA. 

"Namun demikian, pengetahuan tentang pengobatan tradisional juga tersedia atau terekam dalam bentuk tertulis, yakni dalam naskah-naskah kuno warisan para Ahli Pengobatan masa lampau dan Guru-guru Thariqat, termasuk tulisan tangan Syaikh Rifa'i Dt. Indo Marajo atau yang dikenal juga dengan panggilan Inyiak Cubadak," katanya. 

Menurut Zulmahdi yang juga adalah Cucu Inyiak Cubadak itu, metode pengobatan Tradisional Minangkabau itu kemudian DISENYAWAKAN oleh para Syaikh Mursyid Thariqat dengan "THIBBUN NABAWY" (teknik pengobatan Nabi SAW. Karena itu, banyak teks 
pengobatan tradisional biasanya terdapat di dalam naskah yang juga memuat teks-teks lain, seperti teks keislaman. Naskah-naskah tersebut ditulis di surau-surau Thariqat. 

Dengan demikian dapat ditafsirkan bahwa para buya, ulama dan atau Syaikh Mursyid di suatu surau Thariqat selain memiliki pengetahuan keislaman juga mengerti tentang dunia pengobatan. Selain itu, teks pengobatan tradisional yang ditulis atau disalin sesungguhnya ada kaitannya dengan paham keagamaan. "Oleh karena itu, wajar kiranya hingga hari ini masyarakat Minangkabau masih memiliki kepercayaan terhadap para syekh tertentu dan di surau tertentu untuk dimintai obat," tambahnya. 

Menurut Tuangku Radjo Ameh, kita akan menemukan keunikan tertentu saat meneliti dan mengkaji metode pengobatan tradisional itu. Keunikannya tampak pada banyaknya ditemukan mantra, doa dan azimat yang digunakan untuk pengobatan. Selain itu, teks pengobatan tidak hanya untuk pengobatan tubuh yang sakit saja, tetapi pengobatan lingkungan (bagian di luar tubuh manusia) yang sakit juga ada. 

"Hal ini, misalnya banyak ditemukan teks-teks pengobatan tradisional untuk paureh (obat) rumah, paureh lapau, padi dan paureh ternak. Teks-teks pengobatan seperti ini kehadirannya selalu dalam uraian teks pengobatan untuk obat demam, obat sakit perut dan obat-obat yang lain untuk penyakit tubuh (fisik) manusia,"  katanya. 

Dapat dimaknai bahwa masyarakat Minangkabau secara tradisional memiliki konsep tentang sehat dan sakit yang bermuara pada “raso”, rasa. Jika apa yang diinginkan tidak sesuai dengan kenyataan akan menimbulkan “rasa sakit”. Badan dirasa tidak segar, perut terasa tidak enak, rumah terasa tidak nyaman, lapau yang tidak kunjung mendatangkan untung, semuanya merupakan kondisi yang menyebabkan “rasa” sakit. Oleh karena itu, “rasa” sakit itu harus dicari kan obatnya agar “apa yang diinginkan menjadi kenyataan”. 

Lebih lanjut Tuangku Radjo Ameh menjelaskan bahwa pada masyarakat Minangkabau tradisional sakit adakalanya dipercaya disebabkan oleh makhluk gaib (jin, setan, dan lainnya). Dengan demikian, pengobatannya dilakukan dengan cara memantrai atau mendo'akan ramuan obat yang diberikan kepada orang yang sakit dengan bantuan ‘orang pintar’, dukun, buya atau Tuan Syaikh. 

"Praktek memberi mantra atau Do'a pada ramuan ini disebut dengan TAWA. Penyakit yang disebabkan oleh faktor personalistik maupun naturalistik dan pengobatannya juga ditemukan dalam naskah-naskah Minangkabau yang mengandung teks pengobatan tradisional," pungkas Zulmahdi. (az).

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.