-->
logo

Miris, Indeks Demokrasi Indonesia Di Bawah Timor Leste : Perlu Perbaikan Sistem Pemerintahan Dan Budaya Politik

Hot News

Hotline

Miris, Indeks Demokrasi Indonesia Di Bawah Timor Leste : Perlu Perbaikan Sistem Pemerintahan Dan Budaya Politik


SKJENIUS.COM, CIKARANG -- Prihatin Indeks Demokrasi Indonesia Kalah Jauh Dari Malaysia dan Timor Leste, bahkan Mongolia. Hal ini menunjukkan iklim demokrasi di Indonesia masih jauh dari cita-cita UUD 45. Berdasarkan indeks demokrasi tahunan yang dirilis Economist Intelligence Unit (EIU), Indonesia bercokol di urutan ke-64 dari 167 negara di tahun 2019.
Demikian disampaikan oleh Sekretaris Dewan Perancang Partai Nusantara Bersatu (DPPNB), Khairul H. Zamri, SH, menjawab pertanyaan wartawan seputar Agenda Politik DPPNB Dalam Pembenahan Fundamental Kondisi Politik Dalam Negeri, di kantornya, Hikmah Apartement & Office, Cikarang, Jawa Barat. "Indeks Demokrasi Indonesia (IDI) adalah satu diantara indikator yang dibuat untuk melihat iklim demokrasi di Indonesia," imbuhnya.
Karena itulah, Khairul sangat Prihatin dengan menurunnya Indikator Demokrasi Indonesia dalam tiga tahun terakhir ini. "Dilihat dari posisinya, Indonesia masih kalah dibandingkan dengan Timor Leste (peringkat ke-41), Malaysia (peringkat ke-43), bahkan Mongolia (peringkat ke 62)," tegas Khairul, SH.
Menurut Khairul, Dewan Perancang Partai Nusantara Bersatu telah menyiapkan konsep pembenahan serta akan mengambil langkah serius dan fundamental dalam menghadapi kondisi politik Indonesia ke depan.
"Seiring dengan itu kita pun mengajak seluruh pemangku kepentingan perlu memperbaiki sistem pemerintahan dan budaya politik untuk mengatasi penurunan indeks demokrasi Indonesia dalam tiga tahun terakhir," tandasnya.
Jadi ke depan, kata kata Khairul,perbaikannya adalah dalam sistem pemerintahan dan budaya politik indonesia. Dan itu tanggung jawab bersama. "Perbaikan sistem harus menyasar aturan hukum, penegak hukum dan budaya hukum. Ketiga hal itu, bisa dilakukan oleh pemerintah, DPR, partai politik, KPU, Bawaslu dan DKPP," ujarnya.
Namun demikian, Sekretaris Dewan Perancang Partai Nusantara Bersatu itu mengingatkan, pembenahan harus dilakukan secara Terstruktur, Sistematis dan Massive, tidak mungkin lompat kalau prespektif selama 2019 dan sampai saat ini, tak bagus.
"Terlebih lagi, pada akhir pemerintahan Joko Widodo periode pertama masih mendapatkan rapor merah dalam penegakan hukum dan hak asasi manusia.  Jadi artinya ada effort ikhtiar luar biasa untuk mengubah yang suram menjadi lebih ceria," papar Khairul, SH.
Menurut Khairul, jika tak ada tidak ada effort dan politisi cuman mempersiapkan pilkada ya sudah kontestasi terus saja. Kalau itu saja ya politik kita mundur. Padahal politik ada moral politik dan etika politik.
"Kondisi politik 2019 yang carut marut mau tidak mau akan menjadi landasan politik di 2020. Terlebih pada tahun ini, akan diselenggarakan  Pilkada Serentak 2020 di 270 wilayah di Indonesia," pungkas Sekretaris Dewan Perancang Partai Nusantara Bersatu itu. (az).

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.