Munculnya berbagai problema sosial yang dialami manusia modern saat ini, seperti KORUPSI, Penyimpangan Sex atapun penyalahgunaan gunaan NARAKOBA, bermula dari hilangnya visi keilahian yang disebabkan oleh manusia modern itu sendiri, yang senantiasa bergerak makin menjauh dari Pusat Eksistensi.
Seiring dengan itu, pihak Barat pun tiada hentinya melancarkan serangan pikiran (GHAZWUL FIKRI), intervensi budaya dan ideologi ke jantung kehidupan Umat Islam Indonesia. Maka, semakin lunturlah Budaya Spiritual di tengah masyarakat kita.
Diakui atau tidak, namun realitanya, sekalipun mereka beragama dan tampil RELIJIUS, tapi sayangnya mereka telah lepas dari JANGKAR SPIRITUAL atau ESSENSI ajaran Islam itu sendiri. Karena itulah mereka mengalami KRISIS spiritualitas yang telah menimbulkan berbagai penyakit spiritual saat ini. Makanya, menjadi Relijius saja tidak cukup, manusia modern harus kembali ke PUSAT eksistensi.
Asumsi dasar tentang manusia yang terdiri dari asperk jasmani dan ruhani, material dan spiritual, adalah dimensi yang lengkap yang dapat menjadi alternaif bagi manusia modern mengatasi penyakit spiritual. Keduanya sejatinya berjalan seiring, saling melengkapi.
Melalui dimensi spiritual manusia dituntut untuk kembali ke pusat eksistensi melalui dzawq atau cita rasa hati, musyahadah (menyaksikan) dan ma‟rifah (mengenal segala yang tidak tampak. Maka tak ada pilihan lain mereka harus menempuh Jalan SPIRITUAL.
Namun demikian, perlu kita SADARI bersama bahwa memulai langkah, jalan menuju kerohanian atau kehidupan spiritual mungkin bukan yang termudah, tetapi tentu saja merupakan yang paling memuaskan. Orang-orang memiliki kesulitan merangkul spiritualitas batin mereka karena stres sehari-hari mendapatkan yang terbaik dari mereka dan menemukan kedamaian dan kebahagiaan dalam kegembiraan kecil dalam hidup dapat tampak seperti banyak pekerjaan, dan hasilnya tampaknya tidak begitu memuaskan.
Karena itu, sesungguhnya tidak ada hal-hal yang benar-benar anda cari dalam berspiritual. Kecuali, suatu sensasi yang membuat anda berpikir bahwa hidup ini bermakna. Bahwa anda merasa tercerahkan, bahwa anda merasa terkoneksi dengan sesuatu, bahwa anda sudah berada di jalan yang benar, bahwa anda ini dan itu.
Nilai-nilai yang anda asumsikan sebagai pencapaian, akan terus bergerak. Bergerak mengikuti dimensi pikiran anda yang terus bertumbuh. Anda tumbuh karena anda berpikir.
Jadi sangatlah keliru jika ada yang beranggapan bahwa amalan berpikir sebagai perkara yang bukan diunggulkan dalam Islam. Namun demikian, Islam mendorong manusia untuk selalu berpikir dengan pijakan spiritual.
Nah, cara Berpikir dengan Landasan Spiritualitas inilah yang disebut Fikrah Ilahiyah. Karena itu, menjadi orang yang berpikir secara spiritual, sesungguh adalah masalah hidup atau mati. Namun perlu dipahami bahwa kerohanian dan spiritualitas itu tidak terjadi begitu saja dalam semalam. Ini adalah proses langkah demi langkah untuk pemikiran spiritual.
Berikut ini kami kutipkan kutipan pikiran Spiritual dan Kata-kata Hikmah Yang Bagus dari para Guru Mursyid, Sufi yang Arief dan Ahli Spiritual yang telah kami rasakan dan nikmati manfaatnya :
1. Berfikir sesaat untuk umat lebih baik dari pada beribadah Sunnah 60 tahun” (HR. Abu Syaikh al Ashbahâny dalam al ‘Adzamah);
2. Manunggal dalam Nama dan Sifat-Nya. Bergeraklah mengikuti Iradat dan Qudratullah. (DR. Bagindo Muchtar);
3. Berpikir itu lentera hati, barang siapa yang kehilangan pikiran, maka tidak ada cahaya bagi hatinya” (Mawâridudh Dham’ân).
Akhirul Kalam, "Khuliqol insanu min ma-il harokah, li ajlil harokah, fataharrok, innallaha ma'ah." Manusia DICIPTAKAN dari air yang BERGERAK, Supaya manusia bisa bergerak. Maka BERGERAKLAH . Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang BERGERAK. (az)



