Periiiiiiiih...............⁉️😭 Betapa Tidak. Masyarakat Mengeluh, Sejumlah Harga Kebutuhan Pokok Melambung Signifikan. Lonjakan harga ini terpantau menyasar komoditas penting seperti telur ayam, minyak goreng, hingga beras.
Selain bahan pangan utama, bumbu dapur juga ikut mengalami kenaikan. Bahkan, harga Cabai Naik Drastis Jelang Ramadan. Demikian juga harga daging ayam dan daging sapi yang membuat robek kantong rakyat kecil.
Parahnya lagi, kondisi ekonomi yang suram membuat daya beli Umat makin merosot. Karuan saja rakyat jelata sangat terbebani dengan kenaikan harga tersebut. Pasalnya dompet mereka menjerit setiap berbelanja kebutuhan sehari-hari.
Namun demikian, Anda jangan Risau Berkepanjangan. Bulan Ramadhan selalu menghadirkan ruang refleksi yang khas dalam kehidupan bangsa. Ia bukan sekadar momentum spiritual, melainkan juga fase sosial-ekonomi yang sarat makna.
Nah, jika Anda Jenuh dengan Masalah yang Sama Berulang Setiap Tahun, Yuk..........Kita Jadikan Ramadhan Momentum Hijrah Finansial.
Berbagai keluhan masyarakat yang muncul seiring Ramadhan akibat Lemahnya Daya Beli Rakyat Kecil. Melemahnya daya beli masyarakat merupakan indikator utama yang menunjukkan adanya ketidakmampuan ekonomi atau penurunan kesejahteraan ekonomi, terutama pada kelompok menengah dan bawah.
Perlu kita sadari Fenomena Lemahnya Ekonomi Umat ini, berbanding lurus dengan cara masyarakat memperoleh dan mengelola harta selama ini, apakah sudah sesuai dengan prinsip syariah?
Harta yang diperoleh dari jalan yang haram, seperti riba, penipuan, atau bisnis yang tidak sesuai syariat, hanya akan mendatangkan mudharat, baik di dunia maupun di akhirat.
Ramadhan adalah waktu terbaik untuk melakukan introspeksi: Sudahkah sumber penghasilan kita halal dan berkah? Jika belum, inilah saat yang tepat untuk hijrah keuangan menuju cara yang lebih bersih dan bernilai ibadah.
1. Jika Anda seorang pebisnis, pastikan usaha yang dijalankan tidak mengandung unsur haram.
2. Jika seorang profesional, periksa kembali apakah ada ketidaksesuaian dalam cara mendapatkan gaji atau bonus.
Sebuah langkah kecil untuk memperbaiki sumber rezeki akan memberikan dampak besar pada keberkahan hidup.
Selanjutnya, Mari kita jadikan Ramadhan sebagai Turning Point (Titik Balik) Akselerasi Ekonomi Nasional. Pasalnya dalam tradisi masyarakat Indonesia, Ramadhan menghadirkan dinamika konsumsi, mobilitas, solidaritas sosial, hingga peningkatan aktivitas ekonomi berbasis komunitas.
Karena itu, jika Pemerintah mampu mengelolanya dengan tepat sesuai tuntunan Syar'iyah, maka bulan suci ini dapat menjadi akselerator pertumbuhan ekonomi nasional.
Pengalaman berbagai tahun sebelumnya menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi selama Ramadhan dan Idulfitri mampu menciptakan efek berganda (multiplier effect) yang signifikan. Sektor perdagangan, transportasi, pariwisata domestik, industri makanan-minuman, Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), hingga ekonomi kreatif mengalami peningkatan permintaan.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa konsumsi masyarakat bukan sekadar aktivitas belanja, melainkan bagian dari siklus ekonomi yang menggerakkan produksi, distribusi, pertumbuhan ekonomi, dan penciptaan lapangan kerja.
Dalam perspektif kebijakan publik, momentum Ramadhan perlu dibaca sebagai peluang strategis. Ketika daya beli masyarakat terjaga, inflasi terkendali, dan distribusi barang berjalan lancar, maka aktivitas ekonomi musiman dapat berubah menjadi dorongan pertumbuhan yang nyata.
Secara keseluruhan, Ramadhan berfungsi sebagai booster yang mengubah potensi kelesuan ekonomi menjadi pertumbuhan yang akseleratif melalui peningkatan konsumsi agregat dan perputaran uang yang masif di seluruh lapisan masyarakat. (az).



