Mirissss.....‼️🤭 Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) mencatat sekitar 28 juta masyarakat Indonesia mengalami masalah kejiwaan. Pernyataan yang disampaikan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin pada Senin (19/1) dalam rapat kerja bersama Komisi IX DPR di Gedung Parlemen RI, Jakarta tersebut menjadi penanda bahwa isu kesehatan mental merupakan tantangan serius yang perlu ditangani secara sistematis dan berkelanjutan.
Tekanan ekonomi, pola asuh, ketahanan mental, dukungan sosial, serta stres kehidupan juga turut meningkatkan risiko gangguan kejiwaan. Karena itulah, mencari ketenangan pikiran adalah langkah proaktif yang sangat baik untuk menjaga kesehatan mental dan mencegah gangguan jiwa.
Stres yang menumpuk dapat memicu masalah mental, sehingga menciptakan ruang untuk tenang (istirahat mental) sangat penting untuk menjaga kesehatan batin.
Makanya, keheningan dan ketenangan menjadi kebutuhan baru pada kehidupan manusia modern. Rutinitas yang padat dan sibuknya lingkungan sosial, menjadi makanan sehari-hari. Tanpa disadari, hal itu berdampak bagi kesehatan psikologis dan fisik.
Laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) atau World Health Organizations menyatakan polusi suara membawa pengaruh negatif bagi manusia.
Jika kerap berada dalam suasana yang tidak hening dapat membawa resiko buruk bagi kesehatan. Polusi suara mudah membuat seseorang menjadi stress dan tegang. Inilah yang terkadang menyebabkan orang mengalami gangguan pendengaran, tekanan darah meningkat dan serangan jantung yang tinggi. Itulah sebabnya perlunya keheningan dapat mengurangi stres dan ketegangan bagi kesehatan.
Karena itulah kita perlu menyepi.
Pasalnya saat menyepi, kita mempunyai momentum untuk mengambil sikap hening, dan mengintropeksi diri untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik. Dan ternyata, suasana hening membawa manfaat positif bagi kesehatan tubuh manusia, terutama kesehatan otak.
Keheningan dapat mengurangi tekanan di otak maupun tubuh manusia dengan mengefektifkan kembali sirkulasi dan tekanan darah.
Keheningan dapat menyegarkan kembali otak kita. Suasana hening diyakini efektif membantu mengembalikan kemampuan berpikir, menambah kreativitas serta dapat menetralisir emosi di dalam diri kita. Keheningan juga dapat meregenerasi sel-sel otak.
Studi kesehatan menjelaskan jika mengambil waktu setidaknya dua jam per hari dapat membantu pembentukan sel-sel otak yang baru di dalam hippocampus.
Guru Mursyid kita, Allahyarham KH. Abdurrahman Siregar dan para ahli menemukan bahwa aktivitas menyendiri bisa memiliki segudang manfaat sehat jika aktivitas ini dilakukan dengan cara yang tepat. Sesekali menyendiri, menyepi dan merenung akan membuat seseorang memiliki pikiran yang lebih tenang dan hati pun lebih damai.
Berikut ini merupakan 7 manfaat menyepi dari lingkungan sosial untuk kesehatan lahir batin!:
1. Mendapatkan Waktu Luang yang Cukup untuk Pengabdian kepada Ilahy dan Merenung secara Mendalam akan Kemuliaan Allah (In Deep Time with Allah"),
2. Menghilangkan stres,
3. Lebih Mengenal Diri Sendiri,
4. Menjadi lebih fokus dan produktif,
5. Lebih Inovatif da Kreatif,
6. Memperbaiki hubungan social,
7. Menjadi lebih bahagia.
"In Deep Time with Allah" (Hidup dalam Waktu yang Dalam bersama Allah) adalah proses membangun Akar Spiritual untuk membangun hubungan intim dengan Allah. Proses ini berfokus pada melampaui rutinitas dangkal dan masuk ke dalam persekutuan yang mendalam (Manunggaling Kawulo Gusti).
Maka, sekurangnya 3 hari dalam tempo 100 hari, sebaiknya kita menyepi. Ha ini adalah sebuah pilihan yang bijak. Aktivitas tersebut bisa membuat Anda merasakan beragam manfaat, khususnya untuk kesehatan fisik dan mental. (az).



