Keistimewaan Budaya Minangkabau terletak pada KEKUATAN KATA-KATA BERTUAH yang dirangkai oleh para LELUHUR sebagai hasil Percikan Permenungan Beliau dalam memaknai Hidup, Kehidupan dan TADABBUR Alam.
Minangkabau bukan hanya sebagai tempat hidup dan mati, bukan hanya tempat hidup dan berkembang, tetapi Minangkabau juga memiliki makna filosofis. Makanya setiap kata di Minangkabau mempunyai kekuatan-kekuatan tertentu. Karena itulah Alam Minangkabau dikenal juga dengan sebutan, "The Kingdom of Words". 🙏❤🇧🇪
"Minangkabau: The Kingdom of Words" merujuk pada julukan untuk Negeri Minangkabau karena kekayaan dan peran sentral peribahasa (pepatah-petitih), pantun, dan ungkapan adat dalam kehidupan sehari-hari, upacara adat, dan komunikasi mereka, menjadikannya "kerajaan kata-kata" di mana kata dan kebijaksanaan lisan sangat dihormati sebagai cerminan kekuasaan dan identitas.
Karena itu, Senjata terkuat orang Minangkabau bukanlah, keris atau klewang, bukan juga senapan atau meriam. Tapi senjata terampuh orang Minang adalah, " Kata-kata!" seperti yang dibahas dalam buku karya Jane Drakard tentang sejarah Minangkabau.
Menurut Guru Mursyid Thariqat Naqsyabandiyah, Allah Yarham Syaikh Rifa’i Datuk Indo Maradjo, Alam memiliki makna yang mendalam dengan segala bentuk, sifat, serta segala yang terjadi di dalamnya, merupakan sesuatu yang dapat dijadikan sebagai pedoman, ajaran, dan guru.
Saya teringat dengan sebuah PETUAH yang disampaikan Inyiak Cubadak yang mengandung arti yang dalam dan padat dengan nilai-nilai yang harus dijadikan suluh dalam perjalanan hidup kita, yaitu, “Laut sati rantau batuah orang kampung banyak keramat.”
”Laut sati” adalah bahwa kadangkala daerah atau rantau yang ditempuh itu bukanlah kota bebas, namun ada beberapa aturan atau pantangan yang harus dihindari atau batasan yang tidak boleh dilanggar. Sedangkan ”Rantau batuah” itu hampir mirip pengertiannya bahwa rantau/negeri orang itu selalu mempunyai keistimewaan buat daerahnya.
Jadi antara satu daerah/negeri itu tidaklah sama adat kebiasaannya dengan daerah lainnya, sehingga kalau memasuki daerah orang, kita harus mempelajari terlebih dahulu adat kebiasaan masyarakatnya dan tidak berbuat sekehendak hati saja.
TADABBUR ALAM: Meneliti Alam Terkembang, Menyelami Alam Batin
Dalam kaitan itulah, setidaknya setiap 100 (seratus) hari sekali, kita perlu melakukan Kegiatan TADABBUR ALAM dalam rangka “BERGURU KEPADA ALAM secara intensif.
Tadabbur Alam merupakan sarana pembelajaran untuk lebih mengenal ke Maha Besaran Allah SWT yang telah menciptakan langit dan bumi serta segala isinya.
Alam bukan sekadar tempat tinggal manusia, melainkan sumber energi dan keseimbangan yang luar biasa. Setiap elemen—tanah, air, api, dan udara—mempunyai peran penting dalam kehidupan manusia, memengaruhi kesehatan fisik, mental, dan spiritual.
Hubungan yang harmonis dengan elemen alam membantu menumbuhkan ketenangan batin, energi positif, dan pemahaman mendalam tentang kehidupan.
Maka, selama Tadabbur Alam kita Meneliti Alam Terkembang, Menyigi Alam Batin. Seraya Menyelami Kekuatan Elemen Alam untuk Kedamaian Batin.
Tanah memberikan stabilitas dan pijakan yang kuat dalam kehidupan. Menyentuh tanah, berjalan di kebun, atau menanam tanaman membantu menyalurkan energi alami yang menenangkan pikiran. Air membawa kesegaran dan kemampuan untuk melepaskan hal-hal negatif.
Hubungan dengan alam adalah perpaduan antara pengalaman fisik dan spiritual. Dengan menghargai dan berinteraksi dengan elemen alam, seseorang dapat merasakan kedamaian, keseimbangan energi, dan kebijaksanaan batin. Hidup selaras dengan alam membantu menemukan ketenangan, energi positif, dan kebahagiaan yang stabil dalam kehidupan sehari-hari.(az)



