Inti budaya Minangkabau adalah "Raso jo Pareso", yang berarti kombinasi "rasa" (kepekaan batin) dan "pereso" (pertimbangan akal), membentuk dasar budi pekerti, sopan santun, dan akhlak mulia yang mengedepankan rasa malu, tenggang rasa, serta pertimbangan matang sebelum bertindak atau berbicara agar sesuai dengan nilai adat dan agama, menjaga harmoni sosial.
Namun sayangnya, seiring berputarnya bumi, Zamanpun berganti dan waktupun berputar dari hari berganti minggu dan dari masa kemasa, budaya nan elok rupawan itupun tergerus karena waktu dan akhirnya mulai ada yang tergelam ditelan bumi. Pasalnya, banyak diantara Kita tidak menyadari bahwa kita memiliki adat budaya yang super elok lagi rupawan tiada tandingannya. Dan kitapun tidak menanamkan dengan baik dan benar adat budaya ini kepada generasi penerus kita.
Pada umumnya kita memakai adat itu hanya bersifat "kabek babuhua sintak" saja, sedangkan "kabek nan babuhau mati" yang "titiak dari ateh" sangat sedikit kita gunakan, padahal inilah seharusnya yang banyak kita gunakan karena akan menjadikan kita hidup merasa nyaman dan tentram penuh dengan toleransi.
Maka, DISADARI atau tidak namun realita menunjukkan bahwa semakin banyak Orang Minang, terutama di kalangan Generasi Minang Millenial, nampaknya mulai kehilangan “RASO jo PARESO”.
Sangat jarang kita mendengar orang Minang menggunakan bahasa kias dan ibarat-ibarat alami dengan kiat-kiat tertentu, sesuai dengan norma-norma yang berlaku. Segala sesuatu disampaikan seenaknya, tidak memiliki etika dan estetika berbahasa, lapeh sajo ka subarang, indak bapamatang sawah lai, pada hal sawah berpematang, ladang berbintalak, rimbo balinjuang.
Disadari atau tidak, sebagai Urang Minang, kita bersama tentu RISAU melihat realita di tengah Masyarakat Minangkabau Masa Kini. Diakui atau Tidak, namun mulai ada gejala SATU MINANG BERLAIN RASA. Minangku, Minangmu, Minang kita entah dimana. Dulu Minangku kehilir serengkuh dayung, ke mudik sehentak galah.
Maka dari itu, melalui paparan ini kami mengajak para pemirsa, terutama Para Millenial dan Gen Z untuk bersama-sama kita kembali "MARAKEK RASO" dalam Tatanan Dunia Baru Minangkabau.
Mari kita mempererat rasa, menyatukan empati. Dalam Tatanan Dunia Baru Minangkabau, frasa ini berfungsi sebagai prinsip panduan untuk memelihara solidaritas, empati, dan identitas budaya bersama di tengah perubahan zaman.
Konsep ini relevan dalam menghadapi tantangan modern seperti globalisasi dan urbanisasi, di mana nilai-nilai tradisional berisiko tergerus.
Semoga hal ini dapat mendorong komunitas Minang di seluruh dunia untuk menjaga komunikasi dan saling mendukung, meningkatkan solidaritas, menciptakan jaring pengaman sosial dan ekonomi yang kuat, sesuai dengan semangat "dima bumi dipijak, sinan langik dijunjuang" (di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung) namun tetap terhubung dengan akar budaya. (az)



